Tuesday, May 30, 2006

Road to Therapy (2)

Selama satu minggu ini gw tenggelam belajar banyak tentang children with special needs. Koleksi buku gw bertambah dan kapasitas harddisk gw berkurang drastis gara2 banyaknya artikel yang gw ambil :-D Tidur jam empat subuh. Hueh..capek..tapi sebanding dengan yang gw dapet.
Dengan bantuan teman2 milis, gw dapet banyak informasi berharga dari websitenya Linda Silverman tentang Visual Spatial Learner. Dapet juga cara komunikasi dua arah dari sitenya James MacDonald..thanks to Hanni.

Gw juga mulai ikut occupational therapy. Ternyata sepanjang OT Ikel ngamuk terus. Dia dikasih yang lengket-lengket, disikatin, disuruh ambil jepitan baju, ditaro diatas bola terus diputer-puter. Sampai gak ada suaranya saking heboh nangisnya.
Tentu saja gw mulai questioning, apa efeknya semua terapi ini terhadap kemampuan bicara Ikel? Kata terapisnya semua ini dibutuhkan supaya Ikel adjust to the real world.
Penasaran gw beli juga buku tentang sensori ini. Lucunya ternyata dari artikel2 di internet, juga dari informasi di milis, sensory disorder ini masih jadi hal yang dubious. Tidak ada jaminan sama sekali bahwa terapi seperti ini bisa membuat anak bicara. Buku tentang sensory therapi juga ditulis seorang occupational therapist.
Menurut informasi Bu Julia dan dari buku, terapi seperti ini biasanya diberikan pada anak-anak autis atau mental retarded karena mereka biasanya susah beradaptasi dengan lingkungan. Ikel sendiri memang menunjukan sensitifitas tinggi terhadap sensor dari luar, kaya gelinya sama yang lengket-lengket, gak tahan pakai baju ketat, gak tahan merek baju, gak tahan suara keras..tapi sebelumnya juga ini nggak terlalu jadi masalah. Dia nggak tahan suara keras ya gw tutup aja telinganya, gw jauhin dari sumber suara. Gak mau pake baju renang yang ketat, gw paksa juga..hihi.

Lucunya, cara terapisnya justru berbeda dengan cara yang gw baca di buku. Terapisnya menganjurkan dia dibawa ke tempat konstruksi, suruh denger suara keras, yang mana menurut gw kok rasanya terlalu kejem. Gw sendiri gak tahan suara tertentu, jadi gw ngerti gimana gak enaknya kuping kalau denger suara begitu. Di buku dan di artikel2 justru disuruh menghindari, dan diberi secara bertahap. Dari suara pelan dulu, volumenya ditambah setiap hari..sampai bisa denger suara keras.
Ikel juga nggak bisa enjoy dengan terapinya, baik terapi bicara maupun terapi okupasi. Sampai sekarang dia masih ngamuk. Padahal menurut gw kunci buat anak bisa belajar adalah menyediakan lingkungan yang bikin dia tertarik. Dibikin nggak ngamuk dulu.
Yang lucu, semua daftar kerjaan dari psikiater yang harus gw kerjain, ada di buku itu. Semuanya. Malah di buku jauh lebih lengkap. Gw bayar psikiaternya sekitar 600rb rupiah, dan harga buku itu cuma 125rb rupiah! Bete juga sih. Tapi yo wis..namanya juga usaha :-D Semua yang dilakuin OT juga ada disitu.

Dari situ gw bikin dugaan dari berbagai fakta:
- bahwa psikiaternya, nggak seperti kasus biasanya, nggak bisa bilang diagnosanya
- bentuk terapi yang dikasih semua adalah bentuk terapi untuk sensory integration disorder
- terapisnya bingung waktu tau Ikel nggak dikasih obat2an atau suplemen apapun (yg biasa diberikan pada anak ADD)
Dugaan gw, psikiaternya beraliran SID dan terapisnya terbiasa menangani kasus autis & ADD..hehe..aliran, kaya apa aja. Tapi maksud gw, SID ini masih jadi bahan perang. Sebagian ada yang mendukung teorinya, sebagian besar lagi malah menentang. SID ini seperti obat herbal, dari sisi medis nggak ada bukti, tapi beberapa orang bilang it worked. Lucunya kesaksian2 it worked itu ada yang datang dari mereka yang melakukan terapi sampai 5 tahun. Terapisnya juga bilang..let's see after 6 months. 6 months?? Maksud gw, kalau setelah 6 bulan ada perubahan, misalnya dalam kemampuan bicara, siapa yang bisa jamin itu karena terapi sikat2an dan bukan karena hal lain?

Gw bukannya antipati sama terapi macam ini, tapi gw mesti lihat dari kebutuhan Ikel sekarang. Ikel memang jijik ama yang lengket2, toh gw bisa ajarin sedikit-sedikit di rumah. Terapi macam ini biasanya diberikan pada yang kemampuan motoriknya lemah..tapi Ikel bisa megang pinsil, bisa gambar dan nulis.
Sama kasusnya dengan terapi bicaranya. Gw liat makin kesini yang diajarin adalah niup-niup, senam mulut. Padahal yang gw tahu gerakan seperti itu buat meluweskan rahang biar dia bisa bicara. Dan biasanya diberikan pada anak yang bicaranya terbatas sekali, kesulitan dalam artikulasi. Buat Ikel, itu kaya loncat mundur jauh, karena Ikel sudah bisa bicara dengan artikulasi bagus. Bisa nyanyi lancar. Yang Ikel perlu mungkin sebenarnya terapi komunikasi, bukan terapi bicara.
Gw spent sekitar 500rb rupiah seminggu buat terapi, tanpa asuransi, dan tentu gw expect something more worthed. Bukan sesuatu yang rasanya tanpa akhir dan tanpa jaminan, malah membuat gw ragu. Daripada gw keluarin duit segitu buat yang gw nggak yakin, mendingan gw pakai buat Ikel kursus musik. Ikel suka sekali musik dan gambar, rasanya gw perlu menyalurkan minat & bakatnya kesitu.
Gw liat psikiater & terapisnya juga mengenyampingkan fakta kemampuan Ikel lain yang diatas rata-rata. Memorinya yang ajaib, kemampuannya bernyanyi yang sekarang sudah lebih dari 50 lagu, kemampuan baca tulisnya, kemampuan gambarnya. Padahal menurut gw faktor itu perlu dipertimbangkan juga untuk membuat diagnosa. Gw nggak ngerti aja, kenapa diagnosa & treatmentnya bentuk SID? Kenapa bukan central auditory processing disorder misalnya yang rasanya lebih masuk akal..atau dysphasia perkembangan? Yang dua belakang itu rasanya lebih menyentuh aspek telat bicaranya daripada over-sensitivitynya. Menurut Bu Julia di milis, kasus perkembangan dysphasia masih jadi penelitian neurolog jadi belum ada standar terapinya. VSL & CAPD juga masih belum banyak yang tahu. Wajar kalau anak dengan kasus sperti Ikel bisa kena diagnosa macem-macem. Hal yang sama gw baca di buku Misdiagnosis and Dual Diagnoses of Gifted Children and Adults : ADHD, Bipolar, OCD, Asperger's, Depression, and Other Disorders(PAP).

Mungkin gw tetep butuh bantuan speech therapist, tapi rasanya gw perlu cari dulu speech therapist yang lebih fleksibel dan lebih ramah sama anak kecil. Nyari sekolah aja gw perfeksionis, apalagi nyari speech therapist.
Gw juga tetep perlu mengunjungi psikolog atau neurolog anak.
Sekarang ini sementara gw decide buat melakukan sendiri dulu di rumah, dibantu suami plus asisten gw. Gw terapkan sistem komunikasi dua arah dari James MacDonald. Gw tetep ngejalanin apa yang dilakukan OT, sikat2, kasih yang lengket2, pijet..dengan panduan buku yang gw beli. Walaupun belon ada bukti medis, tapi gw tetep coba..toh nyoba sendiri di rumah gw nggak perlu keluar duit :-D
Semua barang di rumah gw tempelin label biar Ikel tau nama-namanya. Gw juga koreksi cara gw ngomong jadi lebih lambat dan lebih singkat. Kata MacDonald, kita yang harus menyesuaikan dengan kemampuan anak. Yang penting dia bisa komunikasi dulu, nggak perlu pakai kalimat lengkap. Di saat yang sama tambah terus kosa katanya.
Alhamdulillah, dengan metode seperti itu kemampuan Ikel berkomunikasi meningkat juga. Emang gw sering lupa, dasarnya cerewet kali..nyerocos aja..lupa lempar bola ke Ikel.
Gw juga mengikuti saran dari milis buat terus menggunakan lagu dalam proses komunikasinya karena Ikel suka sekali musik. Memang selama ini gw rasa itu cara yang efektif sekali. Untung gw suka nyanyi..Lucunya, gw suka tiba2 ngarang lagu sendiri..udah gitu gw lupa! Ikel malah masih inget. Parah nih.

Tantangan paling besar emang to grab his attention. Kalau dia pay attention hasilnya cepet banget. Kadang2 gw bingung juga, soalnya Ikel itu orangnya lempeng banget kaya bapaknya. Kadang kaya yang nggak perhatian, tapi sebenernya merhatiin. Kaya kemarin gw panggil2 dia..

Gw:[nunjukin gambar pensil warna] "Ikel..Ikel..look! I have pencils..blue, blue, green, yellow, orange, red!"
Ikel: [liat sebentar dengan ekspresi juteknya, terus sibuk lagi sama kerjaan asalnya]
Gw: [pasrah]
Nah..hari ini..Ikel duduk sambil pegang gambar yang sama.
Ikel: "Pencils! Blue, blue, green, yellow, orange, red!"
Gw: [Ehhh..jadi dia merhatiin juga toh kemarin??]

Dia sekarang lagi suka banget ngomong makasih..tapi jadi babasih.
Kemarin waktu gw bikin label buat nempel-nempel barang di rumah, dia seneng banget. Terus teriak "Babasiiih!" sambil ngedeketin tempelan2nya. Terus dieja satu-satu.
Lucunya kalau gw lupa jawab, dia sendiri yang jawab sambil teriak.."Sama sama!!"
Read more!


Wednesday, May 24, 2006

Road to Therapy (1)

Ngelunasin utang :-) skalian sharing..
Gw mau cerita dari awal sampai akhirnya gw decide bawa Ikel therapy. Ceritanya panjang karena waktunya juga panjang.

Jadi udah dari dulu, Ikel nunjukin beberapa uncommon behaviours. Tapi gw terus amatin aja dulu, sambil ngelihat perkembangannya keseluruhan.
Uncommon behaviours yang muncul di Ikel:


1. Kontak mata. Ikel suka nggak merhatiin orang lain yang nyoba komunikasi sama dia.
2. Attention. Ikel nggak mau merhatiin hal-hal yang nggak bikin dia tertarik. Sebaliknya, kalau ada yang dia suka, dia bisa merhatiin serius banget.
3. Banyak gerak. Banyak lari, jumpalitan, loncat-loncat..energinya kaya nggak ada habisnya.
4. Ikel jijikan sama apapun yang lengket di tangan/badannya, misalnya lem, bekas makan, dsb.
5. Ikel marah-marah kalau dikasih baju renang yang nutup badan (ketat) atau punggungnya kena merek baju
6. Ikel nggak bisa dipotong kuku & rambut kalau nggak tidur. Kalau tidur juga gampang banget bangun kalau kukunya mau dipotong.
7. Ikel nggak tahan sama suara keras, misalnya suara motor, drill, blender, sampai tamborin.
8. Ikel seneng banget ngeliatin benda bergerak, seperti kipas angin, ban mobil

Sejak pertama munculnya uncommon behaviours yang pertama, gw udah lalap buku dan artikel tentang autisme. Begitu Ikel udah lebih dari dua tahun dan belum juga bicara lebih dari satu kata, gw sampai ikut test online buat determine dia autis atau nggak. Hasilnya sesuai dari kesimpulan setelah gw baca buku&artikelnya, Ikel nggak autis. Dia bisa komunikasi walau bukan dengan omongan. Dia juga nggak hidup di dunianya sendiri. Dan dari sisi intelejensia, dia nggak ketinggalan, malah lebih maju. Ini dibahas berikutnya.
Karena banyak gerak dan susah ngasih perhatian, gw beralih cari informasi tentang ADHD. Tapi bocor lagi. Ikel nggak mungkin ADHD karena dia bisa kasih perhatian penuh buat hal yang dia suka. Dia merhatiin kalau lagi diajarin nyanyi, gambar atau apapun yang dia suka. Dia juga bisa duduk lama kalau ngerjain yang dia suka.
Terus gw sampai ke SPD, sensory disorder. Ini gw tambah bingung karena sensory disorder ini ada beberapa jenis dan nggak ada satupun yang cocok beneran sama yang ditunjukin Ikel. Jadi Ikel menunjukkan gangguan sensori, tapi gejalanya tersebar di jenis-jenis itu.

Di sisi lain, Ikel menunjukkan perkembangan yang jauh diatas rata-rata. Memorinya luar biasa. Daya tangkapnya cepet.
1. Umur 1.5 tahun dia tiba2 bikin gw amaze karena ternyata udah hafal ampir semua fungsi laptop-laptopannya. Jadi tiap huruf di laptop ini punya tiga fungsi, buat alfabetnya itu sendiri (A-Z), buat kata (Apple, Balloon), dan buat lagu. Bayangin gimana kagetnya gw ketika ternyata dia udah hafal semua huruf A sampai Z. Begitu gw tanya mana apple, dia pencet A, terus gitu sampai Zipper. Dan begitu gw nyanyi Happy Birthday dia langsung pencet tombol yang keluarnya lagu itu. Dari pertama dia nunjukin sampai dia hafal semuanya, nggak makan waktu lama.
Pertama dia nunjukin hafal A-Z ini juga sebelum dia umur 1.5 tahun. Sebelum dia masuk Gymboree (17 bulan). Kalo trace balik posting di blog ini, Ikel udah bisa lancar mengeja umur 20 bulan. Itu sebelumnya dia udah hafal fungsi mengeja di laptop. A-P-P-L-E buat apple dsb. Jadi dari sisi artikulasi bicara dan kosa kata, Ikel udah bisa ngomong banyak dari umur 13 bulan.
Umur dua tahun pas lagi jenguk Papanya ke KL, Ikel udah bisa ngeja begitu kita sebutin katanya. Misalnya gw bilang umbrella..dia ngeja U-M-B-R-E-L-L-A.

2. Umur 20 bulan juga gw mulai kasih poster-poster. Dan Ikel hafal semuanya cepet sekali, dari nama binatang, sampai transportasi. Huruf alif sampai ya udah hafal semua.

3. Kemampuannya menghafal lagu juga ajaib. Sekali denger dia langsung hafal iramanya. Beberapa kali denger, apal teksnya. Yang keteteran malah gw. Bayangin aja, gw beliin VCD isinya 30-50 lagu dia hafal duluan, cuma seminggu kali. Begitu ngajak nyanyi gw yang nggak apal, cuma tau itu lagu ada di vcd itu. Kepaksa deh gw belajar harot, ngapalin teks lagu. So kalau soal nursery rhymes, boleh deh tanya gw..hihi.
Terus ada juga cerita yang gw inget banget, soal kaset lagunya di mobil.Itu kaset cuma dia denger di mobil, itupun karena ketinggalan jadinya mendarat di mobil neneknya. Otomatis itu kaset ngga terlalu sering dia denger.Nah, gw bengong karena suatu hari di mobil nenek, dia bisa nyanyi sesuai teks..dan ternyata dia hafal urutan lagunya. Jadi di kaset muter lagu A, dia udah nyanyi lagu lain. Ternyata lagu itu lagu setelah lagu A. Terus gitu sampai lagu-lagu seterusnya.

4. Dia cepet banget diajarin nulis. Begitu dikasih tau cara nulis huruf arab, alif sampai ya, dia cuma ngikutin nggak lebih dari tiga kali. Terus dia bisa nulis perfectly. Begitu juga waktu diajarin nulis latin. Kejadian yang sama waktu diajarin gambar. Dia niru gambar persis gambar gw atau papanya. Mobil ya bentuk mobil, bajaj ya bentuk bajaj, motor beda lagi, sepeda beda lagi.
Nah tapi gw merhatiin juga ada yang aneh. Suatu masa dia suka banget nulis arab, tapi terus pas dia lagi suka gambar objek gw suruh nulis huruf Arab dia nggak mau. Kaya yang lupa. Begitu lagi suka nulis huruf, gw suruh gambar bunga, sok lupa lagi. Tapi ternyata sebenernya dia inget, karena kadang2 kalau lagi nggak disuruh gw liat dia lagi gambar bunga.

5. Biar nggak bisa ngomong, tapi vocabularynya banyak banget. Gw beli buku yang first 1000 words itu. Kalau satu hari gw bacain dia dua topik (yang berarti empat halaman, total lebih dari 20 objek), besoknya dia bisa duduk sambil buka halaman yang sama terus nyebutin semua nama objek yang gue kasih tahu kemarin. Tapi ini juga nggak bisa gw lakukan secara konsisten karena kalau lagi nggak mood jangan ditanya deh. Bisa dilempar tuh buku.

6. Dia juga cepet ngikutin cara gw begini-begitu. Ngeliat gw masang dvd, besoknya dia udah bisa masang dvd sendiri sampe2 sekarang tuh dvd player gw taro jauh diatas. Dan nyebelinnya, dia ngikutin gaya gw baca..gw suka ketawa sendiri ngeliat dia numpukin bantal tinggi, terus baca buku sambil nyender dan kakinya satu diangkat, ditaro diatas kaki yang laen. Gw banget. Itu sih ga papa, tapi kalo udah alat elektronik..puyeeeng..

Nah, uncommon behaviours ditambah memorinya yang ajaib, ditambah umurnya yang nyaris tiga tahun tapi belum juga bisa ngomong satu kalimat lengkap. Itu semua bikin gw decide buat mulai konsultasi ke yang ahli. Sambil mulai speech therapy, gw juga terus nyari di Internet.
Sampai akhirnya gw nemu istilah ini: visual spatial learner with auditory processing disorder.
Dan klik. Cocok banget sama Ikel. Semua yang gw jadiin pertanyaan selama ini rasanya terjawab.

Apa sih visual spatial learner? Mungkin udah pada tahu ya, bahwa cara berpikir manusia tuh ada yang visual ada yang auditory. Di posting2 sebelumnya gw pernah bahas juga tentang hasil test gw dulu yang dominan visual.Orang-orang visual spatial learner melihat sesuatu dari garis besar, melihat sampai ke detil. Dia belajar dengan melihat. Katanya, matanya adalah telinganya.
Dari yang gw pelajarin, dan akhirnya dikonfirm juga sama psikiaternya, cara berpikir Ikel terlalu visual. Sangat visual. Gw sebut aja extreme visual.
Karena terlalu visual, dia kesulitan belajar lewat kata-kata dan pengertian. Dan biasanya orang yang terlalu visual, dia mengalami masalah sensori. Persis seperti uncommon behaviours yang gw tulis semua diatas. Sayangnya, karena negara berkembang masih ketinggalan dalam masalah deteksi children with special needs ini, seringkali didiagnosis jadi autis atau ADHD. Padahal seperti yang gw tulis diatas, gw udah yakin sebelum gw konsul bahwa Ikel nggak autis dan bukan ADHD dari hasil pengamatan gw di rumah.

Teori ini menjelaskan banyak hal yang selama ini muncul di Ikel dan ternyata adalah ciri-ciri anak visual spatial learner:
1. Ikel nggak suka film kartun, maunya film berbentuk orang, kaya barney. Kalau diajarin pakai buku yang dua dimensi juga susah banget masuknya. Akhirnya dari dulu buku-buku dan filmnya kebanyakan selalu 3 dimensi.
2. Anak visual spatial learner kebanyakan punya fotografik memori. Ini ngejelasin memorinya Ikel yang ajaib.
3. Dalam perkembangannya, anak visual spatial learner suka mengalami lonjakan perkembangan. Jadi tiba-tiba jauh lebih cepat dari yang lain, tapi terus turun jauh.
Ikel bisa ngebalikin badan sendiri umur 2 bulan dan ini bikin panik. Dulu gw sampe disangka ngada-ngada, tapi terus asisten gw juga confirm. Terus dia melewati fase merangkak. Langsung berdiri di umur 9 bulan dan langsung merayap. Tapi dari fase jalan dituntun sampai jalan sendiri lama banget.
4. Ikel sering keliatan ragu-ragu kalau mau melakukan sesuatu, apalagi yang baru. Dari mukanya keliatan lagi mikir gitu. Jadi kalau dibawa main ke tempat main, anak-anak lain bisa langsung nyerbu maenan. Ikel meriksa dulu satu-satu.
5. Teori itu ngejelasin juga ketertarikan Ikel sama benda-benda bergerak. Psikiaternya nyebut contoh, Ikel pasti kalau main kereta api yang di track nggak bisa ngeliatin kereta apinya jalan. Memang bener, dia pasti ambil kereta apinya, dioprek terus. Itu karena visual spatial learner tertarik sama hal detil.
6. Ini juga ngejelasin obsesinya sama huruf & angka. Ikel tuh overexcited banget kalau urusan huruf & angka. Seneeeeng banget. Kalau lagi pusing gara2 dia nggak bisa diem tinggal dikasih alfabet aja, langsung deh anteng. Katanya anak2 visual spatial learner ini banyak yang menunjukkan ketertarikan pada huruf & angka di usia dini.

Tentang penanganan anak visual spatial learner dengan masalah auditori ini juga gw masih perlu belajar banyak. Tapi gw ceritain aja apa yang terjadi dengan psikiater dan terapinya.
Sebelum datengin psikiaternya, ada ibunya temen Ikel di sekolah yang bilang jangan ke psikiater itu nanti divonis ADHD terus dikasih obat. Gw nggak bisa generalize dong, jadi gw tetep decide buat datengin dia. Katanya dia terbaik di KL, sesuai feenya! Sekali dateng 240 ringgit!! 600rb rupiah! Gubrag banget nggak sih? Gw cek di Bekasi biaya psikiater sekitar 85rb!
Terus ternyata psikiater ini nggak kasih vonis Ikel begini begitu. Instead dia ngasih gw kerjaan sampai 4 lembar, buat merangsang sensori Ikel. Dia bilang dari sisi intelejensia Ikel termasuk tinggi jadi mending dia pakai approach stimulasi dulu.
Terapi juga ditentuin, terapi okupasi dan terapi bicara. Terapi bicara sebenernya bisa setelah terapi okupasi, tapi buat hasil optimal bisa dua-duanya sekaligus.
Apa yang terjadi di sesi terapi bicara? Ternyata nggak seperti dugaan gw, Ikel nggak dipaksa ngomong, nggak disuruh monyong2 segala. Yang pertama justru sisi disiplinnya, kaya harus nyodorin tangan kalau minta sesuatu.
Banyak kejadian lucu. Ikel keliatannya kesel banget begitu harus terus ngasih tangan. Tangannya disembunyiin. Udah gitu begitu terapisnya nyuruh bilang I want, Ikel keukeuh membisu. Terapisnya nggak mau nyerah, terus bilang I want. Akhirnya Ikel dengan muka galak teriak.."I...JKLMNOP!!". Katanya satu ciri anak seperti ini adalah luar biasa keukeuh. Ya itu Ikel banget. Begitu disuruh lagi ngomong I want...yang keluar "I...aaaaambrellaaaa!". Begitu kesel dia lempar mainannya. Terapisnya nyuruh dia ambil mainannya, Ikel dideketin ke maenan yang dilempar. Sama Ikel emang diambil tapi buat dilempar lagi. Gitu terus. Gw pusing sendiri deh liatnya, soalnya di rumah juga gitu.
Gw belum mulai terapi okupasi, ntar gw ceritain lagi ngapain aja.

Terus terang gw sendiri sekarang masih belajar, karena gw masih bingung apa terapi seperti ini tepat nggak buat Ikel. Gw juga masih mau minta second opinion dari psikolog. Soalnya kalau dibilang nggak bisa ngomong sebenernya nggak juga. Misalnya gini nih..kalo gw ajarin Ikel, Ikel kalau mama tanya "What's your name?" Ikel mesti jawab "My name is Ikel."
Nah..diajarin gini udah berapa kali juga Ikel nggak ngerti2!
Akhirnya gw bawa boneka jari dan bikin puppet show sendiri. Itu boneka saling ngobrol, terus Ikelnya juga gw jadiin bagian, ditanya-tanya sama boneka..tapi yang jawabnya masih gw..Ikel nonton doang.
Eh..begitu hari berikutnya itu boneka gw keluarin, Ikel udah ngomong duluan! "How are you?? I'm fine..thanks!", "wo o name?? My emm i Ikel. I am a boy!"
Panjang kan? Bengong nggak sih gw?
Skarang udah lumayan, karena sering gw ulang2 dia kadang2 bisa jawab kalau gw tanya "What's your name?".
Itu kan bikin gw mikir, kalo diajarin ngomongnya cara konvensional, kapan dia bisanya? Gw juga jadi mesti cari cara kreatif buat ngajarin dia ngomong.

Segitu dulu..ntar gw sambung lagi.
Read more!


Ocehan Supir Taksi

Pertama2, buat Echi & Donna, Iya lagi compile posting tentang therapinya Ikel..sabar yah.

Gw pernah baca di Reader's Digest, tulisan seorang penumpang yang sering banget dikuliahin supir taksi. Waktu itu gw ketawa bacanya, karena emang lucu dan karena gw juga sering mengalami hal yang sama. Setiap naik taksi agak jauh dikit, nggak di Singapur nggak di Jakarta, akhirnya pasti ngobrol ngalor-ngidul sama supirnya. Eh, di KL ini sama juga. Dan biasanya obrolannya klise.


Di SG dan di KL, supir taksi begitu tahu kita orang Indonesia biasanya langsung nyerocos tentang pemerintahan Indonesia yang begini-begitu. Korup lah, beginilah begitulah. Di KL ini pake plus, mereka juga ngomongin pemerintahan mereka yang katanya sami mawon. Entah udah berapa taksi yang gw naikin disini curhatnya sama, ketidakpuasan dengan pemerintah sini. Mereka compare sama Singapur. Klise kan? Di Jakarta yang nggak puas compare ke negara lain, Malaysia misalnya. Nah di Malaysia juga ternyata banyak yang nggak puas dan compare ke yang lebih maju. Itu sih pada dasarnya emang sifat manusia aja yang nggak pernah merasa puas kali ya?
Satu kali gw pernah naik taksi disini yang supirnya wiser. Dia juga sama aja sih, ngomongin kejelekan pemerintah sini pemerintah sana. Tapi terus dia juga bilang setiap pemerintahan punya masalah masing-masing. Indonesia yang terlalu besar dan terlalu banyak penduduknya misalnya. Dia open mind, dan gw lebih suka berdiskusi dengan orang macam ini.

Dan seperti gw pernah post sebelumnya, gw punya riwayat pertemanan juga sama supir taksi..hehe. Sopir taksi luar biasa yang mengakui gw like his own daughter waktu di Chicago, juga sopir taksi ramah yang offer his limo for budgeted price kapanpun gw telepon waktu di SG, bikin gw selalu hormat sama supir taksi.
Tapi tadi gw ketemu supir taksi yang bikin gw bete!!

Dia memang baik, ngasih tau jalan tercepet dari sekolah Ikel sampai rumah. Tapi bener-bener nggak bisa diajak bicara with open mind.
Pertama dia attack keputusan gw bawa Ikel sekolah di usia dini. Ngapain bawa-bawa dia sekolah sekarang, nanti dia bosen, males sekolah. Gw jelasin that's why gw juga pilih sekolah nggak begitu aja. Gw cari yang model belajar lewat bermain, kaya montessori.
Dia masih keukeuh dan state hal yang sama, dia pasti bosen nanti pas besar. Fed up. Buang-buang duit segala lagi.
Gw bilangin lagi, sekolah cuma tiga jam. Lagipula dia suka sekolah. Dia perlu temen.
Dia terus keukeuh dan maksa gw menyetujui pendapat dia. Gw coba sabar dan kepaksa ngomong bahwa Ikel perlu sekolah. Dia telat bicara dan salah satu bentuk terapi adalah masukin dia ke sekolah, karena cara bicara orang besar berbeda dengan anak kecil.
Nah..udah gitu dia tiba-tiba nyerang persoalan pribadi gw. Dia nanya, emang kamu kerja? Ngga kan? Ngapain kamu di rumah? Mending juga ajarin anak kamu jadi anak baik, ajarin ini itu, ajarin bicara. Aduh, bete banget gw. Badan gw lagi cape banget, lagi mumet, diomongin gitu lagi. Emang bawa anak sekolah itu nggak butuh pengorbanan apa? Jelas aja gw jadi ikutan nyolot. Gw bilang, dia di rumah sepulang sekolah sampai paginya lagi n of course I teach him! Tapi gw nggak bisa provide temen!
Diomongin gitu dia tetep nggak berusaha menghargai pendapat gw, dia bilang temen sih ntar juga di tadika (kindergarten) ada. Iiiih...gemes banget. Kan tadi udah gw bilang gw pengen nyediain temen buat bagian terapi dia supaya cepet bicara, kalau nunggu tadika berarti gw mesti nunggu dua taun lagi? Akhirnya gw cape sendiri. Ngelayanin orang yang nggak bisa open mind sama pendapat orang lain bisa jadi perang tanpa akhir. Daripada gw bete nggak perlu mendingan gw diem aja lah.

Setiap orang punya pandangan masing-masing dan walaupun nggak perlu kita menerima apa yang dipandang orang benar sebagai benar, at least hargailah pandangan orang lain. Orang lain juga punya akal dan hati buat menentukan yang terbaik buat dirinya.
Read more!


Tuesday, May 23, 2006

The Kite Runner-Khaled Hossaini

Buku satu ini..luar biasa! Amazing! Superb!
Begitu mempesona dan meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Saking dalamnya sampai-sampai saya tidak berani membaca buku yang lain setelah membacanya karena takut kecewa.

Alur ceritanya mengalir lancar dengan karakter-karakter kuat yang terasa nyata.
Hubungan orangtua dengan anak, hubungan 'sahabat sejati', sampai latar belakang perang teramu sempurna.
Terus terang, semula saya malas membacanya karena menyangka buku ini berkisah tentang perang. Tapi dengan banyaknya pujian yang ditujukan, saya penasaran dan langsung membelinya ketika melihat buku ini di Kinokuniya. Ternyata buku ini memang layak mendapatkan pujian-pujian tersebut.
Terakhir saya menangis ketika membaca buku adalah ketika membaca buku Cecilia Ahern yang romantis. Membaca The Kite Runner, saya menangis lagi, terbawa alur ceritanya.
Saya luar biasa iri pada sang pengarang yang telah berhasil membuat cerita seindah The Kite Runner. Karakter-karakternya masih saya ingat dengan gamblang. Amir, Hasan, Baba..
Yang belum baca, you've got to read it!
Read more!


Wednesday, May 17, 2006

Self-therapy

In a mellow mood..

Hidup itu perjuangan. Hidup itu memang penuh perjuangan. Setiap fase hidup perlu perjuangan.
Klise banget ya? Tapi memang betul. Mau lari kemanapun tetep aja yang namanya hidup harus berjuang. Berjuang buat mendapatkan sesuatu. Berjuang buat tidak mendapatkan sesuatu.


Aku sadar sepenuhnya bahwa tak ada orang yang melalui hidup tanpa rintangan. Semua orang punya masalah dan cobaannya masing-masing. Besar dan banyaknya rintangan yang mungkin berbeda. Jenisnya pun berbeda-beda. Tapi tetep nggak ada orang yang hidupnya seperti garis lurus. Kadar masalah juga bisa berbeda-beda. Ada yang punya masalah tentang satu hal yang menurut orang lain nggak layak dijadikan masalah. Ada juga orang yang hidupnya kayanya nggak pernah lepas dari masalah tapi tetap terlihat tenang tanpa beban.

Aku sendiri? Aku tahu banyak sekali orang yang mengira aku telah melalui jalur emas dalam hidupku. Seperti orang yang mendapat golden ticket kemanapun. Memang aku mendapatkan banyak yang kuinginkan. Tapi tentu saja aku tak melaluinya dengan mudah. I did fight. I know how to fight. I always fight. Aku bukan melalui jalur emas. Sama sekali tidak. Malah jalanku penuh duri. Banyak masalah yang mungkin orang bakal bilang 'sinetron banget', tapi kenyataannya terjadi padaku. Hanya saja, aku terbiasa berjuang sendiri. Berpikir sendiri. I am introvert. I love to help other solving their problems, but I never let people know what problem I have.

Aku berjuang sedari kecil dulu. Sama sekali nggak mudah tumbuh besar jauh dari orangtua. Aku tak tahu kemana harus bercerita jika ada masalah. Aku bahkan tak tahu harus bicara pada siapa ketika mendapat menstruasiku yang pertama. Aku berusaha agar eksistensiku tetap nyata dengan berjuang di bidang akademik. AKu jadi terbiasa dengan kompetisi. Terbiasa memperoleh prestasi akademik yang baik, sehingga satu saja nilai buruk bisa membuat aku stress. Aku belajar mati-matian agar bisa masuk sekolah favoritku. Aku belajar mati-matian supaya nilai-nilai di raportku selalu bagus. Orangtuaku tidak pernah menuntut, tapi aku selalu merasa itu harus.

Masa ketika aku harus mengurus tiga orang remaja pun penuh dengan perjuangan. Sifat perfeksionisku membuat aku merasa harus menyelesaikan masalah sendiri tanpa memberatkan orangtua, walaupun masalahnya bukan masalahku. Dengan masalah pribadiku yang cukup banyak ditambah masalah-masalah lain, sering aku merasa tua sebelum waktunya.

Bahkan ketika akhirnya aku bisa mencintai seseorang, jalan bagiku tidaklah mudah. Bertahun-tahun kulalui dengan airmata dan semangat yang naik turun.
Dan saat aku akhirnya mendapatkan orang yang aku sayangi sebagai pendamping hidup, aku tidak merasakan suatu kemenangan. Saat semua menyalamiku selamat menempuh hidup baru, aku tahu apa yang akan kuhadapi di depan. Hidup baru, tantangan baru, perjuangan baru. Ini hanyalah pintu menuju jenis perjuangan yang lain.
Bahkan aku ingat, suamiku pernah berkata..entah karena alasan apa..tapi dia bilang, mungkin jalan ke depan tidak akan terlalu mulus buat kita. Mungkin suamiku sudah lupa dia pernah bilang seperti itu, tapi aku selalu ingat. Simply, karena saat itu aku memiliki insting yang sama.

Ketika aku hamil, aku tahu kehamilanku tidak akan mudah. Bukan skeptis. Hanya intuisiku yang berjalan. Bukan juga berburuk sangka pada Allah. Aku terus berdoa pada Allah meminta segala sesuatu berjalan lancar. Aku tahu Allah sayang padaku.
Kehamilanku memang tidak mudah. Dengan tiga kali pendarahan dan akhirnya operasi caesar, ditambah bayi yang divonis kuning..aku sudah dipaksa mengeluarkan air mata bahkan hanya beberapa hari setelah melahirkan, karena tak tega melihat bayiku di dalam box penyinaran. Padahal, aku susah menangis. Oke, aku menangis kalau melihat film sedih. Tapi kalau aku benar-benar sedih, justru aku sulit menangis. Ketika kedua kakekku yang sangat dekat denganku meninggal dunia, aku justru sulit menangis. Aku tak bisa menangis karena terlampau banyak orang menangis di sekitarku.

Tapi kemudian aku menangis lagi, karena tak tega meninggalkan anakku di rumah padahal aku harus bekerja di kantor. Kemudian aku berhenti bekerja. Sebenarnya bukan semata demi anakku dan demi suamiku, tapi juga demi diriku sendiri. Aku mulai mempertanyakan makna hidup yang entah sampai kapan. Dan aku sama sekali nggak mau waktuku habis oleh hal yang sama dari jam enam pagi sampai jam sepuluh malam setiap harinya. Masih terlalu banyak hal yang ingin kulakukan. Untukku sendiri..dan untuk anakku.
Bahkan ketika aku berhenti bekerja dan tinggal di rumah 'saja', keadaan tidak menjadi lebih mudah. Aku kembali harus berhadapan dengan hal-hal tak biasa, dari kecemburuan, gosip, pengkhianatan, fitnah sampai hal magis. Aku tak peduli selama aku merasa aku bisa melaksanakan tugasku dengan 'benar'.

Aku merasa bahwa tugas utamaku adalah mendidik anakku menjadi orang yang lebih baik dari aku dan suamiku. Tugasku adalah menyampaikan pelajaran dari apa yang telah aku lalui dalam hidupku.
Dan lagi-lagi, intuisiku mengatakan ini tak akan menjadi hal yang mudah. Dengan banyak sepupu yang jauh lebih kecil dariku, aku terbiasa mengajar anak kecil dengan mudah. Aku selalu memimpikan hari dimana aku memiliki anakku sendiri dan aku akan mengajarkan banyak hal padanya.

Aku tentu saja tak pernah berpikir bahwa aku akan memiliki anak yang terlambat dalam komunikasi. Dan tentu saja, ini membuatku kembali harus berjuang. Bukan hanya berjuang dalam masalah tenaga yang harus bolak-balik terapi, konsultasi dan sekolah, tapi juga masalah kesabaran. Selain harus sabar dengan serangkaian tugas dari psikiatris dan terapis untuk kukerjakan di rumah, aku juga harus siap bersabar menghadapi pertanyaan orang yang cenderung menghakimi.
Bukannya aku berburuk sangka dengan mengatakan demikian, tapi pengalaman membuktikan. Dengan predikat 'keemasan' yang pernah aku miliki;prestasi akademis dan karir yang mulus;sekecil apapun hal yang tak biasa dalam arti negatif tentang aku bisa menjadi alasan beberapa pihak untuk mengatakan hal yang buruk tentangku.
Aku pernah jenuh dengan ejekan beberapa orang yang terus mengataiku karena tak bisa mengerjakan urusan rumah tangga (sebelum menikah). Buat apa pintar kalau nggak bisa masak dan beres-beres? Padahal aku bukan nggak bisa, tapi belum tertarik. Begitu akhirnya aku bisa (juga sebelum menikah), tetap ada hal lain yang menjadi bahan pergunjingan. Ketika aku kelupaan membawa celana suamiku, karena daya ingatku memang bermasalah, aku pun menjadi role-model seorang istri yang buruk. Aku malas berhadapan dengan orang-orang yang selalu mencari hal yang buruk dari orang lain. Dan aku takut aku tak sabar menghadapi orang-orang seperti itu.

Lagipula tak dapat dipungkiri, kata terapi membuat banyak orang memikirkan hal yang buruk.
Aku malas harus menjelaskan bahwa sebenarnya aku bisa memilih antara melakukan terapi dan konsultasi dengan membiarkan saja anakku seperti itu. Toh banyak sebenarnya di keluargaku yang mengalami masalah terlambat bicara dan mereka akhirnya bicara setelah umur empat tahun.Bukannya aku tak sabar, tapi siapa yang bisa menjamin anakku tak akan mengalami masalah lebih buruk karena aku tak mengantisipasinya?
Aku juga merasa aku sudah cukup berusaha. Sejak kedatangan pertama ke dokter anak sampai hari ini, kemampuan komunikasi anakku sudah meningkat. Tapi tetap masih terlambat. Dan untuk mengejar titik yang seharusnya, aku butuh bantuan.

Kasus anakku cukup berbeda. Dia begitu advance di satu sisi. Daya ingatnya diatas rata-rata. Dia bisa menulis huruf dan angka serta bisa menggambar objek sesuai aslinya. Dia bisa hafal lagu padahal baru dua kali mendengar. Kosa katanya juga banyak. Dia cepat hafal isi buku 1000 first words yang aku ajarin.
Tapi dia sangat lambat dalam masalah komunikasi karena dia punya masalah dengan 'attention'.
Lucunya, dia bisa 'give attention' kalau aku ngajarin dia nyanyi, musik dan menggambar! Jadi seperti dia memilih. Dan dia memilih untuk tidak perlu berkomunikasi.
Tentu saja dia berkomunikasi dengan caranya sendiri. Dia bisa bilang satu-dua kata, atau menarik tangan orang lain ketika dia meminta sesuatu. Tapi tetap saja, dia terlambat dibanding anak lain di umurnya.
Pertama aku pikir speech therapy sudah cukup, tetapi untuk mendapatkan hasil optimal tetap butuh bantuan occupational therapy untuk masalah 'attention'-nya. Tanpa bisa dicegah, aku sudah kelelahan duluan membayangkan menjadwal tiga tempat (ST, OT dan psikiatris), melakukan tugas rumah dan mengantar jemput anakku sekolah. Still, it has to be done. Demi anak. Bagian dari perjuangan.

Oya, ada satu yang kuperhatikan. Dari anak-anak di kelas Ikel, dua perempuan dan lima laki-laki, semua yang laki-laki ternyata terlambat komunikasi walaupun tarafnya berbeda-beda.
Yang perempuan ngomongnya lancar banget dan bisa ngobrol.
Laki-lakinya, satu terlambat karena down syndrome, tapi dia mulai bisa ngomong. Satu udah bisa komunikasi tapi pronounciationnya nggak jelas. Satu lebih parah dari Ikel, cuma bisa dua kata. Satu lagi sebenernya udah bisa ngomong tapi jarang ngomong saking pendiamnya. Satu lagi Ikel.
Mudah-mudahan mereka semua bisa take and give.

Masih banyak masalah berat yang harus kuhadapi dan yang tak mungkin kuceritakan. Bagian dari perjuangan yang harus aku lalui. Tapi aku bersyukur karena aku sekarang memiliki seorang partner hidup, yang siap mendengarkan dan mendukungku. Setidaknya aku tidak sendiri.
Dan aku semakin kagum dengan cara Allah menentukan jalan manusia. Kalau aku bukan ibu yang bekerja di rumah, mungkin aku akan kebingungan mencari waktu untuk melakukan serangkaian tugas itu. Padahal aku pun pernah melewati masa-masa kangen dengan pekerjaan kantoran, dari mulai dinamiknya sampai gajinya.
Dan aku tahu, bahwa walaupun terasa berat di kepalaku, sesuai janji-Nya Allah tak akan memberiku masalah yang tak bisa aku lewati. Masih banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung daripada aku dan masih tetap berjuang. Pada mereka aku harus bercermin.
Berjuang..berjuang..berjuang..
Berdoa..berdoa..berdoa..

---curhat, nulis..untuk terapi diri gw sendiri---

Read more!


Tuesday, May 16, 2006

Ikel 1st day @school

Hari ini Ikel masuk sekolah beneran..bukan trial lagi. Setelah melalui serangkaian trial dan cari kesana-sini, akhirnya gw decide buat daftarin Ikel ke My Montessori Preschool di Wangsa Melawati. Nggak deket, malah sebenernya lebih deket ke Hartamas. Kalo naik taksi beda seringgit..hehe.
Kenapa gw decide ke preschool ini?
Well..some reasons..

1. Nggak macet
arahnya berlawanan sama morning traffic, jadi nggak ada macet2nya sama sekali
2. Montessori
sayangnya buat 5 thn keatas ganti jadi KBSR..but anyway, rencana gw umur 5 taun Ikel bisa mulai masuk int. school.
3. Friendly teachers & principal
4. Ratio guru:anak 1:6 di kelas 3 & 4 thn. Nggak terlalu sedikit n gak terlalu banyak.
5. Big outdoor
Maenan outdoornya gak banyak, tapi lapangnya gede. Ikel seneng banget lari2 disitu.
6. Good security
Letaknya di corner house di dalam housing area, jauh dari jalan raya.
7. Very affordable fee
Dibanding montessori preschool lain yang satu ini lebih affordable. Mungkin karena letaknya di perumahan yang mayoritas Malay, bukan expat area kaya Bangsar & Hartamas. Perbulannya 180rm, compared to Educare yg 300 (paling murah sebelumnya dibanding yang lain).
8. Deket carrefour
Kalo gw lagi males pulang pergi gw bisa nunggu di carrefour :-D
9. Rutenya cukup oke kalo one day gw nggak bisa nganter sekolah, jadi papanya bisa nganter sambil ke kantor.
10. Anak2nya active n friendly. Yang besar bisa ikutan ngasuh yang kecil.
11. Kurikulumnya juga oke. Walaupun nggak sekomplit Educare tapi banyak acara nyanyi2.
12. Sistem reportingnya lumayan..3 hari sekali.
13. Ada beberapa kasus speech delayed di situ, jadi Ikel not the first.

Point plus, walaupun bukan islamic school tapi teachernya moslem jadi ada acara berdoa2nya segala.

Tadi Ikel nggak ngamuk ditinggal gw. Gw nunggu di luar aja. Dia seneng liat banyak alphabet sama mainan di kelas, jadi masih enjoy. Lama2 kedengeran teriak, ternyata minta susu. Ikel susah banget disuruh minum air putih, mintanya susu terus.
Terus dia masuk lagi ke kelas. Terus gw intip dari luar..ternyata lagi berantem sama temennya! Ya ampun..Ikel nangis lagi gara2 dipukul temennya..untung keliatan gurunya.
Jam istirahat dia bisa gabung sama yang lain, ikutan main construction set. Keliatannya dia paling suka jam istirahat ini soalnya digabung sama yang besar-besar.
Begitu waktu bubar, Ikel malah nggak mau pulang. Dia terus main di lapang. Maen seesaw, rumah2an, lari2an..hueh, susah payah ngajak pulangnya.
And surprise..dia pulang bahagia banget. Nggak sekalipun sejak keluar dari sekolah dia minta digendong. Biasanya kalo pergi harus digendong.
Terus dia nyanyi terus..saking bahagianya..hihi.
Mudah2an besok2 semakin betah.
Besok sesi pertamanya ama psychiatrist. Psychiatristnya ini susah banget dicari. Jadwalnya penuh terus dan cuma seminggu sekali di hospital. Dari psychiatrist ini gw expect masukan what kind of therapy he actually needs. Hari Jumat dia masih harus assesment kedua buat speech therapy. Full schedule.

My hubby..miss u already..
Read more!


Sunday, May 14, 2006

Ditinggal lagi..

Huuu..hikks..huuu..**nangis ceritanya**
Subuh2 my lovely hubby udah dijemput taksi bandara..
gak ketemu deh dua minggu :-(
Ternyata emang yah..kalo masih single pengen banget dapet overseas assignment.
Begitu udah punya family, berat rasanya ninggalin family. That's what my hubby said.

Padahal masih banyak urusan yang belum kelar..
Sedih..
Ini pertama kali ditinggal Aa pas di KL. Waktu itu kan gw kabur ke Indo.
Skarang udah nggak segampang itu lagi. Ikel udah mulai sekolah n harus therapy.
Gw baru bisa pulang tgl 30 Juni lagi.
My sissy udah bingung..gimana ngepas bajunya kalau pulang tanggal segitu?? Mepet banget ke hari H kawinannya! Gimana yah?? Ah, kayanya badan gw nggak banyak berubah dalam setahun ini.
Belum apa2 udah kangen sama Aa.
Awas aja kalo jadwal dua minggu tiba2 diperpanjang!
Neng Yuriii..ingat janjimu menemaniku! :-D
Read more!


Saturday, May 13, 2006

I'm Every Woman..

Beberapa hari lalu Aa bilang..gw kaya cowok! Tepatnya jalan pikiran gw kaya cowok. Gara2nya kita lagi nyari mobil dan kita came across a mailing list yang isinya ibu2 yang lagi ngebandingin dua mobil. Ibu2 ini pro ke satu tipe mobil dengan alasan yang sama..it's cute! Aa mungkin langsung aja ngebandingin ama cara gw decide..compare fuel consumption, compare mesin, compare capacity, compare harga sampe ngumpulin complain2 penggunanya.
Terang aja gw protes, masa gw dibilang nggak kaya cewek...


Kata Aa, gw orangnya nggak emosional. Nggak melankolis.
Lho? Tapi gw suka nangis kalo nonton film sedih!
Dan gw juga memperhitungkan faktor warna lho buat milih mobil..gw pengen warna merah atau orange. So, gw masih memperhitungkan faktor penampilan.
Oke, Aa melembut. Gw akhirnya dibilang nggak kaya kebanyakan cewek lain. Better..but still..kesannya gw nggak feminin banget gitu lho!
Tapi gw jadi inget..
Dulu gw pernah test kecenderungan right brain-left brain sama auditory-visual. Kebanyakan cewek yang test hasilnya dominan right brain and auditory. Hasil test gw..visualnya mentok di bawah and gw cenderung ke left brain. Diulang beberapa kali masih gitu. Terus gak lama dari situ gw ulang lagi, brain gw jadi balance di tengah, tapi masih aja dominan visual. Hasil test gw lebih mirip temen2 gw yang cowok!
Dan satu lagi..gw sangat-sangat tidak sensitif. Dulu gw sering banget dibego-begoin adik sendiri gara2 nggak sensitif.
Terus pernah juga gw pusing, kenapa orang2 deket gw kebingungan takut gw ngerasa begini atau begitu padahal gw sendiri nggak ngerasa ada masalah apa-apa.
Kata Aa, itu karena cara pikir gw terlalu logis. Dan yang begitu itu biasanya cowok..kalo cewek biasanya lebih dibawa perasaan.
Aa mengakui, yang kaya gitu bukan cuma gw. Tapi teteuup..itu cara pikir cowok katanya.
Nah..protes lagi deh gw..
Mungkin itu sebenernya cuma masalah sensitif-gak sensitif, perfeksionis-non perfeksionis..bukan beda cara berpikir based on gender, ya nggak?

Anyway, sampai tadi..
gw (dengan mode merajuk): "Paaa..mama cantik nggakkk..."
aa: "Cantiiik banget."
gw (masih mode merajuk): "Masa sih?"
aa (dengan nada puitis): "Iya..cantiiik banget. Mama itu..beda..Mempesona.."
gw (nutup kuping): "STOOOOPPPP!!! Gombal! Gombal! Gombal!Kuping Mama sakit denger orang ngegombal!!"
aa: "Lhoo?? Siapa yang ngegombal??"
gw: "Pokoknya gombal! White Lies! Terserah apa juga. Pokoknya I don't like it!"

Aa ngakak. Dan lagi-lagi kalimat sakti itu keluar.

"Tuh kaaan!! Kata gw juga..Mama mah nggak kaya (kebanyakan) cewek laen!!"

Eugh..
Biarin aja deh..jangan2 gara 'beda' itu makanya Aa sayang sama gw..hihi.
Read more!


Sunday, May 07, 2006

Isi Tas Gw..estafetan Gege nih...

Hap..estafetannya ditangkep, Ge..
Tapi..ya ampun! Isi tas gw?? Malu ah..hihi.
Soalnya..gw mesti bikin pengakuan dulu:
1. Isi tas gw nggak pernah beres! Biar tasnya baru dicuci n baru diisiin barang, dijamin dalam seminggu isinya udah bertambah banyak, terutama sama receipt2 belanja.
2. Gw agak maniak tas. Gampang tergoda banget sama tas baru. Tapi penyakit ini udah lama sembuh, sejak gw punya baby udah jarang banget beli tas baru. Terakhir beli tas baru..minggu lalu. Itu juga karena gw gak bawa banyak tas pas pindahan ke KL. Dan gw punya kebiasaan nyocokin tas ama baju. Jadinya dalam seminggu gw bisa ganti tas berkali-kali. Gara-gara itu, isi tas gw suka nggak konsisten.


Tapi ada beberapa barang yang pasti ada di tas gw, dan kebetulan isi tas gw hari ini lagi sama (kecuali passport yang lagi2 ketinggalan!).
1. Dompet kuning motif oriental
Dompet gw guede lho..:) Yang menuhin bukan duit, tapi kartu-kartu dari kartu kredit sampe kartu nama. Gw naro duit2 kertas koleksi gw juga disitu. Ada 1SGD lembaran yang jarang gw temuin, ada Euro, ada juga Lira hadiah kenangan2an dari those Italian guys waktu training di St. Charles dulu.
2. Parfum/body spray White Musk from Body Shop
Senjata andalan, buat ngatasin krisis pede..hihihi..
3. My lovely nokia communicator
Biar kata handphone gw ini udah ketinggalan jaman banget, tapi tetep jadi senjata kesukaan gw. Spreadsheet, wordprocessor and recordernya itu..helpful banget!
4. Bedak padat
5. Lipstik
6. Passport
Nah..ini gw suka kelupaan gara2 ganti tas. Taunya lupa dipindahin.
7. Kartu nama sendiri
8. Kalo bakalan ada proses tunggu menunggu, gw biasa bawa buku
9. Ini sekitar tujuh hari dalam sebulan gw pasti bawa: pembalut plus plastik
10. Notes kecil n pulpen

Nggak banyak kan? Kalo bawa Ikel, gw pasti bawa dua tas. Satu tas tangan, satu lagi ransel item isi barang2 Ikel. Kalo ke pesta, nah ini gw biasanya bingung abis..dompet gw kegedean, handphone gw juga kegedean..tas pesta ukurannya mini2!

Gw lempar ke siapa yaaaa...yang belum dapet ngacung!
Echie, Yanti, Minda n Uta!

Read more!


Saturday, May 06, 2006

Hati-hati..Borders' Sale!!

Hati-hati..Borders lagi sale abis! Bisa kalap!!!
Ada buku yang didiscount sampai 50%. Ada juga buku yang dibanting abis harganya karena cacat, padahal kalo diliat2 ada beberapa yang cacatnya dikit banget.
Banyak buku 4 for 3. Buku yang 50% discount juga 4 for 3! Buku yang lain 15%. Ada juga as usual..yang 3 for 2. Kalap!!!

Secara bulan ini gw udah beli 5 buku..higs..gw nggak boleh terlalu kalap. Yah..gigit jari deh. Padahal 4 dari 5 buku sebelumnya gw beli special price juga. Harry Potter 6 cuma 39.9 dari harga pertama pas launching disini 99rm! 3 buku lainnya gw beli pakai 3 for 2 offernya Borders. Gw beli Short Story of Tractors in Ukrainian, 4th Of July-nya James Patterson and satu buku Robert Kiyosaki. Terus satu buku lagi gw beli The Other Side of Storynya Marian Keyes yang teubeeeuuull abis. Maksudnya sih biar bacanya lama..tapi ternyata selesai juga dalam 2 hari :-( Hasilnya paha gw sakit kelamaan duduk di kloset (my favorite place for reading..hihi).
Akhirnya di sale abis2an Borders ini gw bawa pulang 5 buku. Tiga buat gw, dua buat Ikel. Oya, gw niatnya sebenernya cuma beli 4..ternyata 3 yang gw beli itu 4 for 3, jadi 'kepaksa' gw ambil lagi satu deh buat hadiah..hihi.
Gw beli The Ivy Chronicle, buat temen gw baca nanti sambil nunggu Ikel sekolah. Terus gw beli 2 buku yang lagi special price, 50% discount. Buku tentang crime. Yah, buat referensi gw memenuhi satu obsesi bikin cerita crime kaya James Patterson.
Ikel sekarang ikut2an ngikutin my habit, bawa buku ke kamar mandi! Tapi gw kan bawa bukunya bukan buat dibaca pas showering..Nah Ikel tuh bawa buku buat dibaca sambil dimandiin! Jelas aja buku2nya jadi ancur. Yang paling bikin gw miris, buku Barney Alphabet Soupnya yang gw dapet dengan harga spesial pas sale Popular sampe rusak jilidannya! Huaaa..padahal itu buku kesenengannya Ikel...
Oya..Short Story of Tractors in Ukrainian bagus banget! Lucu!!
Read more!


Thursday, May 04, 2006

Preschool hunting 2: Checklist-ketinggalan satu

Ketinggalan satu: keterlibatan orang tua.
Faktor ini berkaitan juga sama sistem reporting preschool tersebut.
Gw expect preschool yang terbuka, yang melibatkan orangtua dalam proses pengajarannya karena bagaimanapun juga pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama orangtua dan sekolah.
Kebanyakan sekolah yang gw datengin, bikin report cuma satu term sekali. Dan mereka nggak melibatkan orangtua, nggak merasa orangtua perlu tahu apa yang anak kita pelajarin.

Sebaliknya, satu sekolah bikin daily report. Mereka maintain buku yang nyatet kosa kata apa aja yang anak pelajarin dan minta orang tua mengulang kata-kata itu di rumah. Sekolah itu bahkan minjemin buku ke orangtua supaya orangtua kerja sama mengulang semua yang dikasih di sekolah di rumah. Kalau aja sekolah ini deket ke tempat gw, udah pasti gw ambil karena faktor lainnya juga oke.
Sekolah yang akhirnya gw ambil, maintain report 3 hari sekali. Sistemnya sama, pakai buku yang nyatet semua perkembangan mereka dalam tiga hari itu biar orangtua tahu anaknya gimana di sekolah.
Buat gw ini faktor penting karena gw perlu tau apa aja yang anak gue lalui. Gw decided buat take over some factors buat gw ajarin sendiri di rumah dan kerja sama sekolah-orangtua jelas sangat gw perlukan. Supaya nggak tumpang tindih, supaya nggak bersebrangan.
Read more!


Wednesday, May 03, 2006

Preschool hunting 2: Checklist

Yap..as I'm perfectionist, I maintained a list for preschool hunting. Tapi gw yakin ortu yang lain jg banyak yang melakukan hal yang sama, ditulis atau nggak ditulis. Inti dari trial sewaktu hunting kan "bikin perbandingan" juga.
Ini faktor-faktor yang gw amatin setiap kali trial di preschool:
1. Konsep pendidikan
2. Jarak dari rumah
3. Guru
4. Fee
5. Balance
6. Keamanan
7. Kebersihan
8. Waktu belajar
9. Interaksi anak2
10. Permainan luar ruangan
11. Field Trip
12. Rasio anak dan guru
13. Musik

Konsep pendidikan Yang gw cari, learning by playing. Gak harus montessori. Yang penting nggak maksa anak duduk belajar. Kurikulum/syllabusnya juga gue compare.
Jarak dari rumah. Jelas penting, kalau bisa sedekat mungkin supaya Ikel nggak kecapean di jalan n gw nggak males nganter :-D
Guru. Ini juga faktor penting. Guru yang paling banyak ngaruh ke anak nantinya. Sebagus apapun principalnya tapi kalau gurunya nggak oke, efek ke anaknya kan beda.
Dan gw surprise bahwa banyak principal n syllabus sekolah yang oke, sayangnya gurunya nggak mendukung.
Yang gw expect dari gurunya, dia mesti care sama anak asuhnya. Sang guru mesti bisa pay attention individually. Dan gw juga expect guru yang ceria, yang banyak senyum, yang sabar dan kreatif.
And believe me..not easy to find one!
Di satu preschool, ada guru yang teriak2 ke anak didiknya kaya suasana militer gitu. Mukanya galak banget n anak didiknya takut semua. Ini preschool, bukan sekolah calon perwira! Dia teriak2..kalo nggak duduk nanti nggak saya pasangin film! A threat?
Guru yang lain di sekolah yang sama, better tapi menurut gw nggak kreatif. Anak2nya di kelas nangis nyari ibunya, dia kabur..Terus anak2nya sampai pada tidur gara2 bosen. Gimana nggak bosen, dia kasih satu kerjaan n gak kasih kerjaan lain buat anak2 yang udah selesai. Mukanya juga ditekuk terus sepanjang pelajaran, kaya yang stress. Preschool ini langsung gw coret dari daftar. Padahal principalnya bagus. Facilitynya juga lengkap. Harganya murah. Bukan montessori, tapi nggak terlalu maksa.
Di preschool terakhir yang gw ikutin trial, gw langsung fall in love. In house facilitynya mungkin gak lengkap2 amat, gak ada kolam renang, gak ada sand pit, tapi gurunya perfect. Principalnya oke. Gurunya care sama tiap anak. N gw seneng liat dia nari2 n nyanyi bareng anak2.
Fee. Definitely, it's important. Satu preschool langsung gw coret dari daftar trial karena bayarannya perbulan 800RM! SMP aja gw gak akan mau. Dan yang penting dari fee ini gw ngeliat apa bayarannya sesuai ama yang dia tawarin. Fee mahal, I expect it's montessori, in house facilitynya lengkap n ada program2 tambahan. Less than that, less facilities..gw ngerti lah.
Balance. Indoor and outdoor playingnya mesti seimbang. Gw pengen anak gw banyak ngerasain maen di rumput bareng temen2nya. Jadi sekolah2 yang lokasinya di shoplot udah langsung gw coret.
Keamanan. Di satu sekolah, anak gw bisa lolos sendiri sampai keluar. Untung gw bawa asisten gw yang nunggu di depan. Kalo nggak anak gw bisa keluar terus sampe jalan raya! Tapi gw liat most of the schools yang pakai rumah sih aman.
Kebersihan. Nggak perlu dijelasin..:-)
Waktu belajar. Gw mau maksimum 4 jam, termasuk istirahat n snack time. Satu sekolah juga gw coret dari daftar karena 6 jam.
Interaksi anak-anak. Ini satu faktor tambahan aja. Gw appreciate preschool yang mendukung anak2nya buat interaksi satu sama lain. Kalau anak2nya main sendiri2 sih sama aja boong, tujuan gw buat bikin Ikel keekspos ke anak2 lain nggak nyampe.
Permainan luar ruangan. Faktor tambahan juga, plus point kalau fasilitas permainan luar ruangannnya banyak.
Field Trip. Nggak perlu dijelasin juga kayanya..:-)
Rasio anak dan guru. Buat gw ini penting karena kita jadi bisa kira2 gimana attention guru ke anak. Kalau satu guru megang kebanyakan anak, dia jadi nggak merhatiin kalau anak kabur. Dan jadinya nggak bisa tau perkembangan anak itu.
Musik. Ini juga point plus. As Ikel seneng musik, gw lebih suka preschool yang ada program musik atau at least banyak nyanyi.

Pada akhirnya emang nggak mungkin semua isi checklist gw ini bisa dipenuhin sama satu preschool. Tapi at least sangat2 bantu gw bikin keputusan.
I'm almost in the end of the search.
Mudah2an keputusan gw oke..for Ikel especially.
Read more!


Preschool Hunting 1: Why Montessori.

Kerjaan hunting preschool di KL ini udah dimulai sejak pertama gw pindah ke
KL. Waktu itu gw decide buat ambil Gymboree session aja dulu, playgroup bukan preschool. Tapi sekarang Ikel semakin besar dan dokter jg nyaranin buat masuk
daily school biar dia lebih terekspos sama anak lain, so mulai deh nyari.
Sialnya, gw baru aja pindah rumah tanpa memperhitungkan faktor preschool.
Akibatnya, rumah gw jauh dari preschool.
Oke, emang ada tadika-tadika n taska yang deket, tapi semuanya pake kurikulum nasional.
Apa salahnya dengan kurikulum nasional?



It's a matter of preference for sure. Tapi kurikulum nasional nggak sejalan
dengan konsep pendidikan dini yang gw anut. Hampir sama dengan kurikulum
nasional di Indonesia, malah sedikit lebih parah, semuanya terlalu konsentrasi pada sisi akademis.
Dari hasil diskusi sama dokter plus beberapa principal disini, ternyata semua
itu karena tuntutan orangtua disini juga yang pengen anak-anaknya advance dalam sisi akademis. Itu juga katanya kenapa preschool2 yang mengusung konsep "cepat bisa baca", "multimedia" atau tuition2 seperti Kumon laku keras disini.
Itu juga karena tuntutan SD disini yang minta murid2 udah bisa baca pas masuk SD (I thought it's the school's duty, not preschool!). Jadi disini kindergarten bukan lagi tempat buat anak bermain, tapi kebanyakan fokus buat belajar.
Gw sih sedih banget. Pertama, gw kasian ama anak-anaknya. Kedua, gw jadi kepaksa mesti cari international school buat SD Ikel nantinya kalau mau tetep strict to my concept. International school mana ada yang murah!
Sebenernya kejadian sama juga banyak berlaku di Indonesia.
Mau nggak mau gw jadi inget curhat my aunti di Indo. Dia masukin anaknya ke integrated school yang nerapin learning by playing. Sistemnya bebas, kaya
Montessori, anaknya nggak dilarang ini itu. Tapi anaknya jadi ketinggalan bisa baca n tulis sama anak2 TK lain yang kurikulumnya tradisional. Dan dia jadi takut sendiri karena orangtua2 lain very proud anaknya udah bisa baca-tulis-hitung sedangkan anaknya belum.
Waktu itu gw bilang..so what gitu lho?
Menurut gw emang seperti itu..anak lain udah bisa baca tulis lebih dulu, so what? Toh pada akhirnya anak tetep bisa baca tulis. Mungkin sedikit lebih lambat dari yang lain, tapi apa ada beda yang signifikan yang ngefek ke masa depan mereka nantinya?
Apa anak yang bisa baca-tulis-hitung lebih dulu bakal punya masa depan yg lebih cemerlang dari mereka yang nggak? No guarantee.
Gw juga mikir..kalo target si sekolah mainly cuma bikin si anak cepat baca-tulis-hitung, kalau mereka udah mencapai itu, apa lagi?
Tapi di Indo udah mulai banyak juga sekolah2 dengan sistem learning by playing, malah sekolah yang sistem back to nature. SD negerinya jg nggak se-strict disini yang minta anak udah bisa baca.

Gw pro sistem pendidikan usia dini seperti Montessori. Semua permainannya punya konsep, ngajarin anak macam2 hal dengan bermain..dan yang dikembangkan juga bukan cuma sisi IQnya. Gw juga pro kalau orangtua ngajarin anak baca-tulis-hitung, gw sendiri melakukannya, dengan syarat nggak menjadikan itu sebagai paksaan dan bikin suasana belajar lebih kaya bermain.

Selama gw hunting preschool, gw coba juga dua sekolah yang non-Montessori.
Terus terang, gw miris. Di satu sekolah yang jaringannya luas banget n terkenal dengan program cepat bacanya, gw ngeliat anak umur 2 tahun lebih, pada duduk di kursi dengan meja di depannya (bukan meja bulat buat dipakai bersama, tapi dedicated table), duduk menghadap guru (bukan bikin circle), n dikasih kertas n pinsil buat belajar nulis huruf. Dikasih buku mewarnai n crayon tapi didikte dulu warna setiap bagiannya. Gw nggak ngeliat sisi kreativitas mereka dibangun. Dan yang bikin gw lebih miris, gak ada mainan kecuali satu sliding disitu yang dipakai barengan sama empat kelas. Gak banyak buku. Gak banyak mainan edukasi. Gak ada outdoor playing. Dan even anak2nya juga nggak ngobrol gitu. Gw mikir, dalam kondisi seperti itu, apa yang bisa anak gw pelajari selain mata pelajarannya itu?

Sekolah satu lagi, pakai sistem duduk circle, tapi juga nggak kelihatan pengembangan sisi kreatif si anak.
But yes..sekolah2 ini sukses mencetak anak2 yg bisa baca tulis di usia dini.Dan laku keras.

Gw sendiri merasa lebih comfy begitu nyoba sekolah2 Montessori. Anak nggak dipaksa duduk di kelas. Begitu mereka bosan, bisa cari mainan sendiri..n semua mainannya edukatif. Bosan main balik lagi ke kelas. Setiap main mainan edukatif didampingin juga sama gurunya, so they get something by playing beside the fun. Targetnya juga nggak terlalu muluk2, n rasanya lebih acceptable. Instead of langsung diajar nulis huruf, mereka dikasih kegiatan yang bisa bantu mereka buat lebih mudah nulis nantinya. Ikel lebih kelihatan bahagia begitu di sekolah2 yang learning by playing gini daripada sekolah2 dengan metode tradisional. Dan gw juga ngerasa lebih sreg karena menurut gw semua itu berguna untuk jangka panjang.
Target lima kosa kata baru per bulan misalnya, menurut gw reasonable. Gw bisa ajarin sendiri di rumah kalau ngerasa itu kurang (kan ada buku 1000 first words! hehe..really2 helpful..).
The min side in montessory preschool is..the fee! Hehe.

Setiap ortu pasti punya priority waktu nyari preschool buat anaknya. Buat gw, priority gw adalah buat ngasih anak gw environment yang bisa bantu dia socialize.
But again, setiap orangtua pasti punya pertimbangan sendiri. Gw punya waktu lebih so gw bisa ngajar sendiri Ikel buat baca, tulis, ngitung, ngaji..walaupun sekarang baru sekedar pengenalan huruf, angka dan konsep angka. Tapi waktu juga barang mewah, yang nggak semua orang punya. Gw ngerti juga kalau banyak ortu yang force sekolah buat ngajarin itu semua.
But just a little reminder..jangan lupa waktu bermainnya..
Read more!


Kopdar IndoKL Mommies Pertama

Akhirnya...tanggal 1 Mei kemaren, tepat pas Labour Day, kopdar pertama IndoKL Mommies terlaksana juga.
Thanks to Lisa yang nyediain tempat plus makanan buat members IndoKL Mommies bersama keluarga. Soto ayamnya langsung diserbu.
Yang pertama dateng siapa ya? Gw dateng nebeng Yuri&Ian jam setengah satuan. Di rumah Lisa udah ada Lisa&Greg of course, udah ada Carryn, Lely, and Wiwi&Taufiq. Dikirain kita udah dateng paling belakangan, ternyata Mbak Tintin dateng juga..hehe..pake seragam pink (samaan sama Shakeela)! Mas Rahmatnya nggak dipakein pink juga, Mbak? hehe..Btw, gw sama Ikel sama2 pake merah, tapi Anung nggak. Emang susah sih nyeragamin suami :-P

Ternyata rumah Lisa nggak kalah sama ToysRUs, suer deh..maenan Tasha buanyak banget! Jadi anak-anak anteng banget maen. Ikel ketemu lagi sama Nadiv..padahal baru maen bareng di Zoo hari sebelumnya :-D, sama Akmal n Mbak Riri, sama Marvell temen berantem rebutan tombol TV..n kenalan pertama kali sama Tasha, Brian n Shakeela.
Bapak-bapaknya ternyata langsung seru aja bikin circle, ngobrol..entah ngobrolin apa. Rame banget. Ibu-ibunya sibuk, dari yang nyiapin makanan, ngejar-ngejar anak, sampe foto-foto ceria.
Ikel sama Marvel anteng banget makanin cincau plus sirop tjampolay, ampe tiga gelas! Eh, aliran makanan nggak berenti2 coba..sampe perut langsung mekar rasanya.
Nggak kerasa udah sore, keasyikan ngobrol. Anak2 sebagian udah mulai lima watt. Di luar ternyata hujan gede.
Pulang dari rumah Lisa, gw bawa bekel film Korea n N film2 indo, sampe 5 biji (rampok nih namanya). Pulangnya nyebar2 lagi. Kita sih nebeng lagi ama Yuri&Ian yang mau pada nonton di Midvalley rencananya. Ternyata dapet kabar dari Carryn Midvalley macet total..ganti haluan ke Suria KLCC. Pisah di KLCC, Yuri&Ian nonton..gw liat2 sale Isetan..haha.
Waiting for the next kopdar..Nggak ketemu sama Gege, Barly n Mbak Sari, pada kemana ya?
Read more!


This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]