Tuesday, August 29, 2006

Welcome to my house

Setelah mengucapkan bye-bye pada Dellie, sekarang saatnya mengucapkan selamat datang buat:

1. Emmet

my new PC!! At last! Foto menyusul.
Ada apa di balik nama ini? Emmet diambil dari AMD. AMD= eimeid = emet = emmet
Bacanya bukan Emmet kaya Mamet di AADC, atau Emmeut kaya simeut...tapi Emmet kaya baca Slamet, Lalet, Rapet, Padet...begicuh...
Oya, Emmet ini juga nama si lucu di Legally Blonde...siapa yang maennya yah, Luke Wilson gituh?
Karena si Dellie dulu diputuskan buat berjenis kelamin F, sekarang gantian berjenis kelamin M.

2. Sabrina da Silva

My MyVi, after almost three months waiting. Walaupun belum nyampe secara fisik di rumah karena masih dilengkapin macem2 n dalam proses registrasi, but I got it! Mobil ini bener-bener mobil 'at last-and-at least I got it car'. At last I got it abis nunggu sekian lama. At least I got it karena warnanya masuk ke dalem list perkecualian yang gw kasih ke agennya :-D Dari tujuh warna yang tersedia gw mengecualikan tiga, salah satunya silver. Eh ternyata dapetnya silver. Nunggu lagi sebulan?? No way! Lagian stelah dipikir2 cuma warna putih yang gw bener2 gak mau. Akhirnya gw ambil juga.
Sabrina diambil dari kata 'sabr' alias sabar. Merefleksikan dua hal, kesabaran gw selama tiga bulan ini. Nganter jemput pake taksi, nunggu di carrefour, dsb. Dan satu lagi, kesabaran suami gw karena melayani kemauan gw yang ngotot pengen MyVi. Ah....I really love my hubby :-))
Da Silva, nggak ada hubungannya ama saliva walaupun gw emang mesti nyegah supaya nggak ngiler kalo liat MyVi di jalan sebelum dia dateng. Da Silva dari silver, warnanya. Kebanyakan barang2 gw emang namanya diambil dari warnanya.
Mobil gw di Indo namanya Goldie, dari warna gold. Uler2an gw (yang Ikea itu lho) namanya Greeny karena warnanya hijau. Buat kunci setir gw namanya Si Kuning.
Kok jadi inget boneka gw yang ditinggal di Indo...hiks. Si Dundu, si Mabelle...kangen...
Skarang gw punya boneka kucing...namanya Maumora, kalau dipencet kakinya berbunyilah dia. Kadang miaw, kadang blrrrb, kadang nyanyi lalalala. Hmm...kalau Sabrina udah di rumah, mungkin Maumora bisa disuruh nemenin Sabrina.
Read more!


Thursday, August 24, 2006

Selamat Tinggal Dellie

Setelah sekarat beberapa minggu.
Akhirnya hari ini Dellie pergi meninggalkan dunia ini.
Finally dead.
Untuk beberapa hari mendatang gw terpaksa kerja malem, nunggu laptop my hubby bisa dipinjem.
Penyakitnya diawali dengan tendangan kaki Ikel.
Hidupnya diakhiri dengan siraman air putih, lagi-lagi oleh Ikel.

Buat ganti Dellie, gw mau cari PC aja. Tapi mesti mikirin gimana cara melindungi PC baru nanti dari tingkahnya Ikel.
Hiks...masih sedih mode. Untung datanya masih bisa diselamatkan.
Read more!


Tuesday, August 22, 2006

Barry Prima u/ Piala Citra :-D

Kalau ada pemilihan piala Citra lagi,
gw dukung Barry Prima buat pemain pendukung pria terbaik di Realita Cinta & Rock n Roll!
Beneran, gila abis! Hebat!! Itu baru akting.
Kualitasnya menurut gw setara sama Felicity Huffman di Transamerica. Malah lebih ekstrim kalo kita inget film2 Barry Prima di jaman dulu. Dia identik dengan bintang laga.
Tapi di Janji Joni & Realita Cinta, Barry Prima berani ambil peran yang berbeda. Dan menurut gw dia sukses.
Di Janji Joni perannya sebagai supir taksi nggak gitu banyak. Tapi di Realita Cinta ini, perannya sebagai transeksual cukup banyak muncul di layar dan jadi salah satu kunci yang membuat film ini menarik.
Read more!


Monday, August 21, 2006

LIT dan Sedikit Renungan Kemerdekaan

Di buku saya yang pertama, Lost in Teleporter, ada sedikit detil yang saya masukkan tentang seorang pembantu rumah tangga yang masih lebih lancar berbahasa Sunda dibanding berbahasa Indonesia. Walaupun mengambil latar di tahun 2101, detil ini sama sekali bukan kesalahan editor ataupun ketidaksengajaan penulis. Hal ini lahir dari pemikiran dan pengalaman saya pribadi.
Dimulai dari ketakutan saya di masa remaja ketika tiba waktunya mengunjungi makam keluarga di sebuah perkampungan di Jawa Barat. Untuk mencapai makam itu saya harus melewati beberapa perkampungan di belakang kampung nenek saya (jangan salah, walaupun perkampungan tapi letaknya tepat di sisi jalan raya,lho!). Setiap lewat saya deg-degan, takut ada orang yang menyapa ramah. Kenapa? Karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, dan waktu itu saya tidak bisa berbahasa Sunda!

Tahun demi tahun berlalu, saya tetap melewati tempat yang sama dengan kepercayaan diri yang berbeda karena telah bisa berbahasa Sunda dengan lancar. Tapi ada satu yang tak berubah, penduduk kampung-kampung itu tetap tak bisa berbahasa Indonesia.
Kenapa? Jawabannya sederhana saja, karena mereka merasa tak perlu untuk bisa. Kenapa harus bisa sedangkan lingkungan mereka tidak mengharuskan untuk bisa? Semua orang bicara bahasa Sunda, jadi kenapa harus belajar bahasa lain?
Dan saya amati ternyata bukan hanya penduduk di kampung itu yang begitu, tetapi di cukup banyak tempat yang jauh dari perkotaan. Yang tidak menempuh pendidikan, hampir tidak bisa sama sekali berbahasa Indonesia. Yang menempuh jalur pendidikan, kebanyakan hanya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sekolah. Sehingga bahasa Indonesia untuk percakapan yang mereka kuasai adalah bahasa baku dengan aksen dan campuran bahasa lokal.

Fenomena ini terus berlanjut sampai saya dewasa dan bekerja. Dalam beberapa kesempatan ke luar negeri, saya bertemu tenaga kerja Indonesia yang kesulitan bicara bahasa Indonesia! Percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Di negeri jiran ini lebih parah lagi, seringkali saya bertemu tenaga kerja Indonesia yang hanya bisa bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Bahasa Indonesia bagi mereka ya bahasa Melayu itu. Ini karena mereka sebelumnya tidak pernah bicara dengan bahasa lain selain bahasa Jawa, dan terpaksa harus bisa bahasa Melayu untuk bertahan di negeri tetangga.

Sudah hampir 78 tahun sejak Sumpah Pemuda dan 61 tahun sejak Indonesia merdeka. Masih banyak rakyat yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Padahal saya tadi menyebut contoh dari pulau Jawa, pulau yang bisa dikatakan termaju di Indonesia. Karena itu saya memprediksi keadaan di abad mendatang pun tak akan jauh berbeda dalam segi penggunaan bahasa. Mungkin semakin banyak rakyat yang menguasai bahasa asing, tetapi masih tetap banyak mereka yang lebih nyaman berbicara dalam bahasa daerahnya masing-masing. Bahkan saat ini di kota-kota besar, para pembantu rumah tangga tetap banyak yang tidak lancar berbahasa Indonesia karena bekerja di rumah yang juga membiasakan penggunaan bahasa lokal. Jika pembangunan dan pendidikan bisa tersebar lebih merata, mungkin ceritanya lain lagi. Tapi saya yakin, penggunaan bahasa lokal dibanding bahasa Indonesia secara lebih dominan di luar metropolitan, akan terus terjadi.

Saya sempat merasa sangat miris ketika mengetahui para TKI yang tak bisa bahasa Indonesia. Bahkan saya sempat menyalahkan pemerintah yang melakukan pembangunan kurang mencapai desa. Saya menyalahkan pemerintah untuk banyak hal yang menyebabkan Indonesia tertinggal. Tetapi beberapa kalimat dari seorang supir taksi di negeri jiran ini menyadarkan saya, "Warga negara selalu merasa tidak puas pada negaranya. Rakyat Indonesia tidak puas pada pemerintahnya. Disini pun sama. Wajarlah jika pemerintah Indonesia kesulitan. Indonesia terlalu luas! Terlalu banyak penduduknya! Terlalu sulit diatur."
Lalu saya mulai melihat banyak segi positif dari Indonesia yang tidak bisa saya temukan di tempat lain. Persatuan bangsanya yang multi-etnis. Keramah-tamahan penduduknya. Di negeri tempat saya tinggal sekarang, orang seringkali memandang dengan aneh jika melihat saya berjalan-jalan dan mengobrol asyik dengan mereka yang berbeda ras. Saya pun tetap merindukan makanan dan cuaca kota Bandung walaupun berada di luar negeri.
Walaupun masih banyak hal yang membuat saya tidak puas, dari KKN yang merajalela sampai ongkos fiskal ke luar negeri yang menurut saya tidak masuk akal, tetapi ternyata banyak hal dari Indonesia yang membuat saya bangga. Terutama banyak penduduknya yang berpikiran terbuka dan kreatif. Maraknya dunia perbukuan Indonesia sekarang ini adalah salah satu bukti. Tak bisa diabaikan, lajunya perkembangan dunia seni musik dan film.
Lalu bagaimana dengan rakyat yang masih tidak lancar berbahasa Indonesia? Rasanya bukan masalah karena baca tulis rata-rata mereka bisa. Berkomunikasi pun tak masalah walau tak lancar. Bukankah bahasa Inggris pun ada berbagai aksen yang disesuaikan dengan budaya lokal, seperti Singlish, Manglish? Kenapa tidak boleh ada Sundindo, Jawindo? :-) Tetapi mereka yang tidak BISA berbahasa Indonesia? Itu pekerjaan rumah. Entah untuk siapa.
Read more!


Friday, August 18, 2006

Mama Marah??

Sehari sama Ikel kalau nggak ada apapun yang tumpah malah kayanya jadi aneh. Seharian kemaren gw abis 5 lap pel! Dari pagi udah ada aja aksinya. Gw lagi asyik nyetrika ada yang gubrag-gubrag. Ternyata Ikel lagi jatoh2in stoples plastik diatas meja makanan. Gw amatin dulu, mau ngapain dia?
Ternyata pengen ngambil Nutrisari di kotak. Gw pindahin aja tuh Nutrisari agak jauhan. Terus nyetrika lagi.
Eh...kok ga ada suaranya? Gw intip, si stoples2 yang dijatohin tadi ternyata udah tersusun rapi, jadi tangga! Dia pake buat ngambil si Nutrisari..keukeuh! Akhirnya dapet. Tapi kue2 di dalem stoples berhamburan kemana-mana.
Yah, kepaksa stop dulu terus beres2 kue.

Ikel nyodorin Nutrisari ke tangan gw, "Bagi! Minum!"
Oke, gw bikinin dulu si rasa guava itu. Terus dia minum sendiri. Gw balik lagi deh nyetrika (tiga tong sih...hehe).
Tiba2 kedengeran dia ketawa gembira gitu. Penasaran, diintip lagi. Weleeeeh...dia lagi berenang di lantai pakai si nutrisari!! Wah, akhirnya menyerah. Setrikanya gw stop dulu deh. Ngepel dulu.
Terus gw cek imel bentar. Gubrag! Waaaa...Ikel jatoh di pintu kamar mandi!! Nangis, untung nggak kenapa-napa, cuma tangannya kena ujung pintu dikit. Skarang dia udah bisa buka tutup pintu sendiri sih. Ampun deh.
Ikel balik lagi maen di ruang tengah. Tadaaa...kali ini sisa susu setengah gelas yang tumpah di meja TV. Lari lagi deh gw ngepel. Gw lagi ngepel, baru sadar Ikel ilang lagi. Kemana dia??
Ternyata lagi bahagia ketawa2, masuk ke dalam keranjang setrikaan. Gw tutup ruangan setrikanya. Suruh maen lagi.
Terus gw masak buat makan siangnya. Eh, kemana gerangan si teko aer??
Aduuuuh, Ikel lagi maen apa sih?? Dia bawain gelas2 plus tekonya, terus ngucurin air dari teko itu. Aanjangan, mun ceuk urang Sunda mah. Basah lagi deh kemana-mana. Ngepeeel lagi!
Lama gw masak, Ikel menghilang ke kamar. Patut dicurigai!
Oh my God!! Dia lagi nyemplungin tangannya ke tempat body butterku yang masih penuh!! Huaaaa, that's my favorite body butter. Terus dipake ngelap meja rias :-((
"Ikeeeelll!!" suara gw mulai meninggi lagi. "Stop!! Jangan!!"
Ikel ngebalik terus senyum, pasang wajah innocent gitu.
"Mahal??" dia nanya gitu dengan mata yang membesar polos.
Ooops...apa gw pernah bilang itu body butter mahal ya?? Kayanya gak pernah!
"Iya, itu mahal! Jadi jangan maen itu, ya!" kata gw akhirnya. Ikel ngangguk terus lari lagi...ke ruangan tengah, numpahin sdikit muruku sama kue.
Krkrkrkr....gw nyapu dulu. Eh, Ikel iseng gitu. Sapunya direbut, terus dia nyapu, tapi jadinya malah semakin kotor kemana2.
Huah, habis deh sabarnya gw. Gw bawa Ikel ke kamar, kasih buku, terus kamarnya dikunci dulu. Gw nyapu dulu.
Praaaangggg!!!!
Dari dalem kamar.
Ya Allah!! Apa lagi nih?
Gw masuk ke kamar, kayanya muka gw kalo difoto udah mengerikan banget. The monster inside me lagi ngamuk.
Ikel nyengir gitu pas gw masuk, lagi tengkurap di kasur. Di bawah kasur barang2 berjatuhan. Gw udah siap ngomel.
"Eh, mama marah??" katanya tiba-tiba sebelum gw mulai ngomong. Akhirnya gw gak jadi marah.
"Ikel, bobo aja gih..." kata gw setelah Ikel selesai makan segala. Asli capek banget. Di kamar gw kelonin, yang ada gw yang ngantuk. Lagi melayang2 ke negeri kapuk, tiba2...bummm!! Aduuuuh, badan gw dijadiin trampolin!! Akhirnya acara mau tidur berlanjut jadi smack down. Ikel gak jadi bobo. Ya udah, kita mandi sore aja. Ikel kooperatif sekali pas mau mandi. Ternyata lagi pengen maen aer, so jadilah dia renang di lantai shower.
"Mandi! Mandi! Byur byur!!" katanya teriak-teriak.
Menjelang jam Papanya pulang, Ikel masih aja heboh. Ribut banget. Segala dimakan.
Terus dia minta susu, eh susunya abis. Jadi gw buka lagi dus baru.
"Eh, minum, baru?" dia kesenengan gitu.
"Iya, yang kemarin abis, jadi mama buka baru," kata gw. Dia tambah seneng aja.
"Holeeey....minum baru! Minum baru!"
Selepas minum, mulai cari cemilan lagi.
Pyaaaaar....
Tau-tau selantai ruang tengah penuh sama muruku!! Aduh, kenapa sih ni anak. Kayanya gak tahan banget liat lantai bersih!!
Kurang nyebar kali kotornya, murukunya dia sebar2in terus. Sampe pas papanya pulang bengong gitu liat lantai penuh muruku. Gw udah keabisan energi, ntar aja sekalian gw pikir, kalo dia udah bobo.
Bobonya tetep malem. Dan gw bener2 kecapean. Pfuih, ngurusin anak with abundant energy begini emang kitanya juga kudu fit.
Tapi yang gw seneng, sekarang Ikel semakin interaktif. Biar nggak ngomong panjang2, tapi dia ngomong dua arah.
Kemarin dia buka buku vocabularynya, gw amaze ternyata dia masih inget nama binatang2 melata. Padahal udah cukup lama dia gak buka buku itu.
"Worm! Komodor!!"
Komodor???
Read more!


Tuesday, August 08, 2006

Belajar Membaca di Usia Dini, Perlukah?

Kebetulan banget, di milis indokl_women lagi pada ngebahas keharusan anak bisa baca sebelum masuk SD. Topik yang udah gw rencanain berhari2 ini jadi nyambung juga.
Skarang ini semakin marak saja berbagai cara membuat anak genius. Metode-metode membuat anak bisa ini dan itu di usia dini juga terus dipasarkan. Dari metode Glenn Doman untuk anak belajar membaca, sampai Shichida Method yang katanya bisa bikin anak punya fotografis memori. Jangan salah, anak-anaknya disuruh belajar dari bayi lho! Iklan Shichida aja bilang bisa mulai dari umur 2 bulan!


Anak-anak mulai umur 2 tahun, disekolahin di preschool yang belajarnya juga serius. Duduk di kursi masing-masing, niru huruf dari latin sampai Mandarin. Pemerintah juga ikut-ikutan. Di KL sini, anak yang mau masuk SD harus udah bisa baca tulis.
Lah..lalu apa fungsinya Sekolah Dasar?
Bukankah TK itu taman kanak-kanak? Taman Bermain? Tempat anak bermain. Fungsinya lebih ke arah perkembangan sosial dan emosional. Kalaupun ada sisi intelejensianya, bukankah lebih baik dilakukan tanpa paksaan? Tapi karena diharuskan, mau nggak mau, orangtua nggak punya pilihan lagi. Anaknya tetep mesti diajar baca sebelum usia Sekolah Dasar. Kalau nggak, cari sekolahnya setengah mati!
Sampai-sampai preschool Montessori pun akhirnya banyak yang terpaksa mengajarkan baca-tulis serius karena tuntutan itu. Memang sistemnya lebih longgar, biasanya hanya ketika usianya 5 tahun keatas, atau murid masih diberi kebebasan untuk beristirahat ketika bosan.

Masalahnya..apa anak-anak perlu belajar membaca di usia dini?
Ternyata dari banyak literatur yang gw baca, justru sebaliknya.
Tidak ada jaminan seseorang yang lebih dahulu bisa membaca akan lebih sukses di masa depan daripada mereka yang terlambat. Banyak tokoh sukses yang justru terlambat membaca. Di buku Right Brained Children in a Left Brained World disebutkan tokoh2 Albert Einstein, George S. Patton, William Butler Yeats adalah mereka yang terlambat membaca. Anak2 di Rusia baru membaca di usia 7 tahun, tapi mereka cerdas2.

Dari satu milis tentang anak gw dapatkan informasi bahwa syaraf mata anak balita belum siap untuk membaca, disebutnya masih kontralateral. Masih terbalik-balik, seperti antara b dan d. Karena itu resiko balita yang diajar membaca untuk terkena kesulitan belajar (baca-tulis) nantinya lebih besar.Informasi yang sama gw dapatkan di buku Jalaludin Rahmat, lupa judulnya, tapi buku itu tentang cara otak belajar. Waktu terbaik untuk belajar membaca sesuai dengan perkembangan otak justru pada usia sekolah dasar.

Belum lagi, mengajarkan membaca juga tentu ada tekniknya. Sebelum mulai mengajari membaca, lebih baik jika kita mengenali dulu bagaimana sebenarnya tipe berpikir anak kita. Banyak anak yang mengalami kesulitan membaca, padahal masalah sebenarnya ada di teknik mengajar.
Jika anak kita visual learner, kemungkinan besar ia akan kesulitan belajar membaca di sekolah umum yang kebanyakan sistem KBM-nya tidak bersahabat dengan anak-anak visual learner. Padahal anak-anak visual learner adalah pembelajar cepat dan rata-rata memiliki ingatan yang kuat. Untuk mengajarinya membaca, justru kita harus memanfaatkan kekuatan visualnya. Pergunakan gambar-gambar dan logo. Ajak mereka untuk memvisualisasikan apa yang dibaca. Rata-rata anak visual learner dapat membaca sendiri tanpa diajari hanya dengan melihat. Secara otomatis mereka menghafal dan mempelajari pola. Metode Glenn Doman yang heboh itu dan diikuti banyak orang, menurut gw cocok untuk anak-anak visual learner, bukan auditory.
Jika anak kita auditory-learner, yang kini adalah mayoritas di dunia, sistem fonetik
seperti yang umum diajarkan di sekolah dapat diterapkan. Sistem ini mengajarkan mengenal huruf lewat cara mengucapkannya, a=eh, b=beh, dsb.
Teorinya memang untuk cara pikir otak yang berbeda seharusnya digunakan teknik belajar yang berbeda pula, tetapi di dunia nyata hampir semua sekolah sekarang mengajarkan baca dengan sistem fonetik.

Menurut gw pribadi, yang penting untuk anak usia dini bukanlah mengajar membacanya, tetapi mengajarkan budaya membaca. Belum tentu anak yang bisa membaca lebih dahulu akan suka membaca.
Gw sendiri early reader. gw bisa membaca sebelum masuk TK, di usia 4 tahun bacaan gw sudah surat kabar. Tapi gw tidak akan suka membaca kalau saja di rumah gw tidak disediakan banyak buku. Komik wayang, HC Andersen sampai Kho Ping Hoo, jadi bacaan gw waktu SD.
Anak gw pun termasuk early reader. Dia hafal alfabet umur 1 tahun dan sekarang sudah baca kata-kata yang sering dia lihat. Tapi gw tidak pernah dengan sengaja mengajari dia membaca. Yang terjadi adalah, sebagai seorang visual learner, dia belajar sendiri. Alfabet dia bisa karena main laptop2an, dan membaca karena sering diliatin gambar lengkap sama tulisannya di bawah. Jadinya dia tahu kata apple itu dibaca apple. Tapi ya terbatas banget, sehafalnya dia aja. Jadi sebenarnya dia belum bisa baca, cuma sekadar hafal.
Kenapa nggak sekalian aja terus diajarin? Stimulasi sih terus diberikan, karena dia juga late talker. Tapi prinsip gw adalah..tidak memaksa. Kalau dia yang mulai, dia yang suka..ya dibiarin, karena itu kan perkembangan dia. Tapi kalau dia lagi males ya wis..toh masih banyak permainan yang bisa dilakukan.

Gw sih sekarang belum terlalu bingung..hehe..soalnya Ikel baru 3 tahun. Masih jauh ke usia SD. Tapi nanti umur 5 tahun, sekolahnya juga bakal beralih ke kurikulum nasional buat ngejar bisa baca. Dan cara belajarnya juga pakai sistem fonetik. Baru
saat itu gw mesti bertindak :-D
Sebenernya sih dari sekarang gw udah mikir2..mesti gimana ntar. Kayanya sih gw prefer cari sekolah alternatif yang lebih fokus ke perkembangan individu. Lagipula Ikel visual learner sejati yang memang butuh pendekatan berbeda dalam belajar.

Buat temen2 yang mesti ngajarin anaknya belajar baca karena tuntutan sekolah..selamat berjuang, tapi jangan lupa ya..respect ur child. Jangan lupa bagi2 pengalamannya buat kita2 nanti.

Read more!


Wednesday, August 02, 2006

Catch Ikel!



Sedikit percakapan gw sama dokter gigi gw..
Gw: "Anakku tuh belon lancar ngomong juga.."
Drg: "Lah..sama sama keponakanku. Tapi anaknya pinter skali, nggak bisa diem..kalo masuk rumah orang semua tombol dinyalain. Tapi ya itu, ngomongnya nggak bener2 juga padahal udah kelas 1 SD!"
Semua tombol dinyalain?? Waaaa..itu Ikel banget!! Kalo udah masuk rumah orang, pasti ada satu orang dewasa yang lari2..tried to catch him..gara2 kelakuan isengnya ituh. Dia tuh pengen tauuuu aja ini tombol buat apa, tombol itu buat apa..Yang ini gimana kerjanya, yang itu gimana. Kalau ini dicampur itu jadi apa.

Hasilnya?
Masuk ke rumah PakPuh: nyalain TV, mencet dispenser, buka pintu lemari, terus asik di depan compo.
Masuk ke rumah eyangnya: compo, TV, lemari, bongkar isi dus, nasi gak mateng2 gara2 tombolnya dipindah.
Rumah kakek nenek: banjir (dari dispenser tentu..), konci mobil korslet gara2 masuk ke gelas teh manis, minuman di meja dimasukin bubuk kue
Terus pernah gw mau minum ternyata di dalem gelas gw dimasukin uang receh! Untung gak ketelen! Aduh, pusing deh. Bahaya banget kalo di depannya ada macem2 minuman n makanan. Bisa bikin resep sendiri dia. Masih inget gw sama kejadian tujuh belasan taun lalu di Tasik, waktu dia campurin satu tempat es timun sama rujak! Untung rujak yang masuk baru satu sendok sayur, jadi maaf ya tamu2 kalau rasa es timunnya aneh :-(
Coca cola asisten gw pas lagi di resto juga dicampur sama cream soup. Hmm..yummy..

Tapi gw tau, di balik semua keisengannya itu sebenernya dia cuma pengen memuaskan rasa ingin taunya. Sama sekali gak ada niat buat nakal. Gw tau waktu dia nungging2 di meja bilyar, terus2an masukin bola dari atas..terus diliatin gerakan bolanya ampe bawah..itu bukan repetitive behaviour tanpa maksud. Bener juga, berikutnya dia ganti masukin bola dari bawah, dilempar ngikutin bentuk jalur yang melingker2. And believe it or not, ternyata anak2 lain jadi ikutan lempar bola dari bawah. Tinggal papa gw aja yang ngelus dada liat meja bilyarnya jadi sarang anak2.
Prinsip gw buat nggak ngasih maenan elektronik mahal karena gampang banget dirusak terbukti juga. Wktu ultah dia dikasih becak2an, baru juga dipake maen bentar dia teriak marah. Ternyata lutut tukang becanya udah ngadep belakang, entah gimana caranya. Kadang gw bingung sendiri..ini diapain sih bisa begini?? Idenya tuh adaaa aja. Nggak ada deh sehari ceritanya tanpa dia iseng.
Gw tinggalin sama adek gw di rumah, eh adek gw ngadu. Katanya Ikel pengen maen aer, pas cuci mobil dia udah deketin pengen disiram, tapi nggak dianggap. Akhirnya dia nyebur sendiri ke genangan aer di tanah, terus cuci muka disitu..sampai mau nggak mau disiram beneran deh.
Atau waktu gw larang makan coklat lagi karena udah kebanyakan. Dia nggak berani deketin gw, akhirnya deketin suami gw sambil nyodorin coklat.."Pa, ini enak!", katanya pake nada nawarin.
What?? Gw ampe bengong dengernya! Dia yang jarang mau ngomong ternyata bisa ngomong gitu demi kepentingannya..hihi..idenya itu lho!!

Makanya kadang gw sebel juga kalo udah diomongin sama orang..ngapain sih khawatir banget sama anaknya, pake dijagain segala..biarin aja, biar dia lepas! Iyaaaa...tiap anak kan beda. Kalo anak gw dilepas di tempat rame, dibiarin sendiri..dia bisa beneran ilang! Anak gw bukan tipe yang ntar juga sebentar balik sendiri. Iya, balik sendiri..tapi nanti kalo udah bosen, and bosennya itu entah kapan!

Tapi gw juga sekarang jadi belajar lebih percaya sama Ikel. Walaupun dia nggak banyak ngomong, tapi dia ngerti. Dia mandiri. Dia bisa ngapa-ngapain sendiri. Pernah gw panik ngeliat dia nyamber digicam, ternyata dia bisa makenya! Adek gw aja nggak bisa kalo nggak diajarin. Padahal selama ini dia cuma liat gw pake beberapa kali aja.
Gw percaya sama akalnya.
Yang paling penting, gw percaya sama Allah. Gw yakin Allah sayang sama gw. Sedari Ikel di perut, gw selu berdoa hal yang sama..supaya Allah menjadikan anak gw bagian dari generasi yang dijanjikan-Nya. Supaya anak gw jauh lebih baik dari gw. Kalau sekarang Ikel memiliki kelebihan dan kekurangan, gw yakin itu bagian dari tugasnya di dunia.
Read more!


Gue banget..hihi..

Introducing....
IYA JUNIOR!!


Kalau adek gw liat gaya Ikel baca yang dengan mulut manyun itu pasti ngakak abis :-D
Ceritanya lagi liat gambar airport. Lagi baca juga ngototnya tetep aja..
Dia bilang "keju!"..lah..gw bilang "Nggak ada keju ah, ini kan airport!".
Terus dia tunjuk Duty Free Shop, "Shop!", terus nunjuk bentuk kotak kuning yang ada di Duty Free itu.."Roti keju!!"
Bengong deh gw..hihi..soalnya gw juga gak tau itu gambar maksudnya apa. "Oooh..okay..good boy, iya itu roti keju!"
Begitu gambar supermarket, dia kebingungan ngomong "meat".
"Bit.."
"No Ikel..meat!"
"Meat.."
"Good..meat!"
"Fit.."
"Meeeeeat!!"

Read more!


My Sissy's Wedding












Ikel, my lovely prince












pengantin in 'tegang' mode






the happy family

Read more!


Tuesday, August 01, 2006

Ketemu Penulis2 di Gramedia Fair

Ini dia yang seru, ketemu penulis2 yang selama ini cuma gw baca karyanya doang. Termasuk Mbak Endah dan Oom Tan yang ngakunya bukan penulis padahal resensinya mantap :-P



Yang hadap depan: Andrea Hirata, Hermawan Aksan, Endah 'Perca', Hernadi Tanzil



Yang hadap depan: Senny Alwasilah, Isman H. Suryaman, Primadonna Angela

Ternyata Mang Jamal dan diriku sendiri tidak terfoto..
Tapi Mang Jamal ada nih..lagi acara bedah bukunya dengan Isman sebagai moderator..



Read more!


Oleh-Oleh dari Bandung

Pulang..pulang..
Dasar, ke Bandung disebut pulang, ke Bekasi disebut pulang, ke Kuala Lumpur juga disebut pulang. Udah nggak jelas dimana berada kali ye.
Aduuuh..sumpah, pulang sebulan nggak kerasa banget! Kurang! Kurang! Kurang lamaaaa! Perasaan gak sempet ini itu. Mana pake acara sakit terus lagi sampe2 gw gak jadi cabut gigi. Udah keenakan sama udara KL kali ya..atau Bandung nan dingin itu udah nggak cocok lagi ama gw? hihi..
Tapi emang pas pulang itu lagi banyak serangan virus kayanya. Ikel aja yang jarang sakit jadi ikutan diare. Untung Ikel maniz pas lagi sakit.
Nah..ngapain aja pas pulang?

Hmm..first of all, beli buku dong ke Palasari..hehe..langsung bangkrut deh gw!
Terus pasti..sibuk ngurusin kawinan Ita..
Terus ada juga acara Gramedia Fair..
Terus ketemuan sama temen2..ketemu Ska, ketemu Dewi, ketemu Iva, ketemu Lala setelah bertahun2..wah...seruuuu..
Dikit2 aja ah postingnya..kayanya mending post picturenya..
picture can tell more than words :=D
Read more!


This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]